Arsip

Arsip Tag: Kurikulum 2013

A.      Nama Kegiatan        

Fasilitasi Pengembangan Kurikulum SMK Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013.

 

B.      Penyelenggara        

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

 

C.      Dasar Keikutsertaan

  1. Surat Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah tanggal 27 Februari 2013 Nomor: 005/01742 Perihal: Undangan Fasilitasi Pengembangan Kurikulum SMA, SMK dan SMALB Tahun 2013 dan Surat Ralat Peserta Fasilitasi Pengembangan Kurikulum SMA, SMK dan SMALB Tahun 2013 Nomor: 005.a/01742 tanggal 11 Maret 2013;
  2. Surat Perintah Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara Nomor: 800/0797.a/DIKPORA/2013 Perihal Tugas Mengikuti Kegiatan Fasilitasi Pengembangan Kurikulum SMA, SMK dan SMALB Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013.

 

D.      Perwakilan SMK Negeri 2 Bawang

Agus Saefudin, S.Pd.  (Wakasek 1. Kurikulum dan Ketenagaan / Guru Mapel. TAV)

 

E.       Waktu dan Tempat Kegiatan             

Waktu Kegiatan        :  Senin – Kamis, 25 – 28 Maret 2013

Tempat Kegiatan      :  Islamic Center Semarang

 

F.       Hasil Kegiatan

1.       Pengembangan Kurikulum SMK Tahun 2013

  • Alasan mengapa perlu perubahan kurikulum, yaitu: (1) Perubahan filosofi tentang manusia dan pendidikan, khususnya mengenai hakikat kebutuhan peserta didik terhadap pendidikan; (2) Cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi sehingga subject matter yang harus disampaikan kepada peserta didik pun semakin banyak dan beragam; (3) Adanya perubahan masyarakat, baik secara sosial, politik, ekonomi, maupun daya dukung lingkungan alam, baik pada tingkat lokal maupun global; (4) Salah satu kriteria baik buruknya sebuah kurikulum bisa dilihat pada fleksibilitas dan adaptabilitasnya terhadap perubahasn serta kemampuan mengakomodasikan isu-isu atau muatan lokal dan isu-isu global.
  • Permasalahan yang terdapat pada Kurikulum 2006, yaitu: (1) Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak; (2) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (3) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan dan pengetahuan; (4) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan belum terakomodasi di dalam kurikulum; (5) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi di tingkat lokal, nasional, maupun global; (6) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; dan (7) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remidiasi secara berkala; dan (8) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
  • Kendala-kendala yang ditemui dalam perubahan kebijakan kurikulum, yaitu: waktu, harapan-harapan dari pihak orang tua, kelangkaan bahan pembelajaran termasuk buku pelajaran pada saat implementasi kurikulum yang baru, kekurangjelasan konsep kurikulum yang baru, dan guru yang kurang memiliki keterampilan dan pengetahuan dikaitkan dengan kurikulum baru tersebut.
  • Waktu sosialisasi Kurikulum 2013 sekitar bulan Mei 2013 dan sekolah dimohon untuk tetap mempersiapkan diri karena ada kemungkinan Kurikulum 2013 dilaksanakan mulai Tahun pelajaran 2013/2014 meskipun masih banyak kendala di sana-sini.

 

2.       Penilaian Otentik dan Portofolio dalam Kurikulum 2013

  • Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian adalah proses sistematis meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, dan interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).
  • Prinsip penilaian, meliputi: sahih (valid), obyektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, menggunakan acuan kriteria, dan akuntabel.
  • Penilaian dalam Kurikulum 2013 untuk SMK akan menggunakan asesmen otentik dan penilaian portofolio.
  • Asesmen otentik adalah proses pengumpulan informasi dalam upaya merealisasikan tujuan pembelajaran melalui penilaian secara langsung terhadap serangkaian kompetensi melalui penilaian pada bukti-bukti aktual dan otentik.
  • Asesmen dikatakan otentik apabila: (1) sangat mendekati hasil pendidikan yang diinginkan, (2) melibatkan siswa pada tugas-tugas yang bermanfaat, penting dan bermakna, (3) mampu menantang siswa untuk menerapkan informasi/keterampilan akademik baru pada situasi riil untuk maksud yang jelas, (4) mampu mengukur perbuatan/penampilan yang sebenarnya pada suatu mata pelajaran, (5) pengukuran penguasaan siswa terhadap suatu mata pelajaran dengan cara pengukuran kompetensi secara langsung, (6) memeriksa/menguji kemampuan kolektif siswa dalam rangka mengevaluasi secara tepat apa yang telah dipelajarinya, (7) memeriksa/menguji secara langsung perbuatan/prestasi siswa berkaitan dengan tugas intelektual yang layak, dan (8) siswa mendemosntrasikan apa yang mereka ketahui  dalam suatu konteks kehidupan riil.
  • Karakteristik asesmen otentik, yaitu: (1) bagian tak terpisahkan dari pembelajaran di kelas, (2) cerminan dunia nyata bukan sebagai macam kerja sekolah yang memecahkan masalah, (3) menggunakan banyak ukuran/metode/kriteria, dan (bersifat komprehensif dan holistik.
  • Prinsip asesmen otentik ada 2, yaitu: (1) Proses penilaian tak terpisahkan dari proses pengukuran hasil belajar. Integrasi proses asesmen otentik sebagai bagian asesmen hasil  belajar  menunjukkkan  bahwa  domain ukur  pada asesmen  otentik adalah domain tujuan pembelajaran. Penilaian harus menggunakan ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar;  dan (2) Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata dan bukan masalah akademik semata.  Dunia  akademik  adalah penyederhanan  dari  dunia  nyata  sehingga terkadang stimulasi permasalahan yang distimulasi untuk diatasi dalam proses pembelajaran belum sepenuhnya mewakili dunia nyata.
  • Bentuk penerapan asesmen otentik, yaitu: portofolio, performance, proyek, respons tertulis, wawancara lisan, tugas problem solving kelompok, merancang sebuah produk, membuat presentasi tentang emosi orang, penelitian, menulis/essei, merevisi, mendiskuisikan masalah, analisa lisan, cek list, simulasi, demonstrasi/perbuatan, presentasi, dan evaluasi.
  • Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses pada bagian lampiran IV tentang penilaian hasil pembelajaran menyatakan bahwa penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan menggunakan tes dan non tes yang slaah satunya adalah portofolio.
  • Model penilaian berbasis portofolio (portofolio based assesment) adalah suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap dan keterampilan peserta didik yang bersumber dari catatan dokumentasi pengalaman belajarnya. Portofolio adalah kumpulan hasil karya seorang peserta didik sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja yang ditentukan oleh guru atau oleh peserta didik bersama guru, sebagai bagian dari uasaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan oleh kurikulum.
  • Langkah-langkah penggunaan portofolio, yaitu: (1) menentukan maksud atau fokus portofolio, (2) menentukan aspek isi yang dinilai, (3) menentukan bentuk, susunan atau organisasi portofolio, (4) menentukan penggunaan portofolio, (5) menentukan cara menilai portofolio, dan (6) menentukan bentuk atau penggunaan rubrik.
  • Bentuk portofolio ada 2 macam, yaitu: (1) Portofolio Proses (proses  oriented), adalah portofolio yang menekankan pada tujuan bagaimana perkembangan peserta didik dapat diamati dan dinilai dari waktu ke waktu; dan (2) Portofolio Produk (Product Oriented) adalah portofolio yang menekankan pada tinjauan hasil terbaik yang telah dilakukan peserta didik, tanpa memeprhatikan bagaimana proses utnuk mencapai hasil itu terjadi.
  • Contoh jenis karya siswa: (1) hasil proyek, penyelidikan, atau praktik yang disajikan secara tertulis; (2) gambar atau laporan hasil pengamatan, (3) analisis situasi yang berkaitan atau relevan; (4) deskripsi dan diagram pemecahan suatu masalah, (5) laporan hasil penyelidikan tentang hubungan antara konsep-konsep, (6) penyelesaian soal-soal terbuka, (7) hasil tugas pekerjaan rumah yang khas, (8) laporan kerja kelompok, (9) hasil kerja peserta didik yang diperoleh dengan menggunakan alat rekam video, alat rekam audio, dan komputer, (10) fotocopy surat piagam atau tanda penghargaan, (11) hasil karya dalam mata pelajaran peserta didik yang tidak ditugaskan guru (atas pilihan peserta didik sendiri tetapi relevan), (12) cerita tentang kesenangan atau ketidaksenangan peserta didik terhadap mata pelajaran bersangkutan, (13) cerita tentang usaha peserta didik sendiri dalam mengatasi hambatan psikologis, atau usaha peningkatan diri, dan (14) laporan sikap peserta didik terhadap pelajaran.

3.       Penyusunan Modul dalam Kurikulum 2013

  • Bahan ajar merupakan bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan peserta didik dalam KBM.
  • Karakteristik bahan ajar, yaitu: menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang untuk peserta didik, menjelaskan tujuan instruksional, disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel, struktur berdasarkan kebutuhan peserta didik dan kompetensi akhir yang akan dicapai, memberi kesempatan pada peserta didik untuk berlatih, mengakomodasi kesulitan peserta didik, memberikan rangkuman, gaya penulisan komunikatif dan semi formal, kepadatan berdasar kebutuhan peserta didik, dikemas untuk proses instruksional, mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta didik, dan menjelaskan cara mempelajari bahan ajar.
  • Jenis bahan ajar, meliputi: lembar informasi (information sheet), operation sheet, jobsheet, hand out, dan modul.
  • Modul merupakan media atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai standar kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
  • Tujuan penggunaan modul, yaitu: (1) memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal, (2) mengatasi keterbatasan waktu, ruang dan daya indera peserta didik dan pendidik, (3) meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi peserta didik, (4) mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya, (5) memunginkan peserta didik belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya, dan (6) memungkinkan peserta didik mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.
  • Kerangka Modul: (1) Halaman depan berisi: halaman sampul, halaman francis, kata pengantar, daftar isi, peta kedudukan modul, dan glosarium; (2) Bab I Pendahuluan berisi deskripsi, prasyarat, petunjuk penggunaan modul bagi peserta didik dan peran guru, tujuan akhir, standar kompetensi, dan cek kemampuan awal; (3) Bab II Pembelajaran berisi: rencana belajar peserta didik, kegiatan belajar meliputi: tujuan kegiatan pembelajaran, uraian materi, rangkuman, tugas, tes formatif, kunci jawaban formatif, dan lembar kerja; (4) Bab III Evaluasi berisi: cognitive skill,psychomotoric skill, affective skill, produk/benda kerja sesuai kriteria standar, batasan waktu, dan kunci jawaban; (5) Penutup berisi daftar pustaka.
  • Prosedur penyusunan modul meliputi tiga tahapan, yaitu: tahapan persiapan, penyusunan dan validasi dan penyempurnaan, sebagaimana gambar diagram berikut:

Tahap Persiapan

Tahap Penyusunan

Tahap Validasi

 

Acara ditutup dengan membaca hamdallah..

 

 

Usulan Struktur Kurikulum SMK se-Kab. Banjarnegara untuk Program Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa ditunjukkan oleh Tabel berikut.

Struktur Kurikulum Usulan SMK Banjarnegara

Dari tabel di atas, pada Kelompok C (Peminatan dan Vokasi) seharusnya masih ditambah dengan mata pelajaran Fisika dan Kimia.

Bagaimana dengan pendapat anda?

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian kita adalah sebagai berikut:

  1. Bahasa Jawa diusulkan terintegrasi dengan mata pelajaran Seni dan Budaya. Menurut hemat saya sesungguhnya akan jauh lebih baik jika Bahasa Jawa berdiri sendiri sebagai mata pelajaran karena substansi materi pembelajaran dan tujuannya berbeda. Bahasa Jawa sebagai mata pelajaran merupakan salah satu upaya dalam nguri-uri kabudayan Jawi dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya luhur orang-orang Jawa. Apa jadinya jika orang Jawa sudah tidak lagi bisa berbahasa Jawa, tidak mengenal unggah-ungguh basa pun tidak njawani. Mata Pelajaran Bahasa Jawa tetap punya urgensi yang tinggi dalam menopang tegaknya budaya Jawa dan juga lestarinya nilai-nilai luhur, karakter bangsa dan budi pekerti yang baik.
  2. Praktik kerja industri (prakerin) bagi siswa SMK merupakan salah satu wahana untuk mengenal dunia kerja (dunia usaha/industri) yang nyata dalam masa belajarnya untuk itu kegiatan prakarin dapat dikatakan berhasil jika siswa SMK mempunyai gambaran dan kerja yang nyata tentang dunia usaha/industri. dalam hal ini mutlak SMK membutuhkan dukungan dunia usaha/industri. Sehubungan dengan jumlah SMK yang semakin banyak ditambah dengan bervariasinya kompetensi keahlian siswa maka diperlukan perencanaan dan koordinasi yang baik bagi SMK dalam kegiatan prakerin ini. Pada kurikulum 2013 yang telah digodok salah satu usulan alternatif prakerin dilaksanakan pada tingkat XII semester 5 seama 4 bulan. Hal ini memerlukan perhatian dari poka prakerin SMK untuk merencakan program prakerin yang lebih baik lagi.
  3. Lulusan SMK menurut hemat saya selama ini memiliki banyak peluang dalam menjalani kehidupan setelah terjun di masyarakat, yaitu: (a) dapat bekerja sesuai dengan kompetensi keahliannya pada dunia usaha/industri karena lulusan SMK mempunyai kemampuan kerja baik hard skill maupun soft skill sesuai kompetensi keahlian di SMKnya. (b) lulusan SMK dapat menjadi wirausahawan yang tangguh karena disamping pengetahuan dan keterampilan sesuai kompetensi keahliannya dia juga dibeali dengan pengetahuan dan praktik kewirausahaan sebagaimaa yang sering ditanamkan bahwa menjadi kepala ayam lebih baik daripada kepala naga. dan (c) lulusan SMK juga dapat melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi (perrguruan tinggi) karena dia juga dibekali dengan pengetahuan yang cukup untuk melanjutkan studinya. Pada Kurikulum 2013 yang sedang dimatangkan dinyatakan bahwa Ujian Nasional dilaksanakan saat siswa kelas XI dan kelas XII fokus pada pembelajaran peminatan dan vokasi tanpa mata pelajaran adaptif. Hal ini membutuhkan perhatian kita bersama berkaitan dengan lulusan SMK akan dibawa kemana dan hal ini tentunya akan terkait erat dengan program-program pembelajaran yang direncakan  oleh sekolah.
  4. Mata Pelajaran Kewirausahaan pada usulan Kemendikbud dihapus diganti dengan Prakarya. Berkaitan dengan SMK senantiasa mengupayakan secara sungguh-sungguh dalam membentuk wirausahawan melalui mata pelajaran kewirausahaan yang dalam implementasinya bukan hanya pelajaran teoritis tetapi juga praktik maka  SMK Kab. Banjarnegara mengusulkan untuk diintegrasikan antara mata pelajaran prakaya dengan kewirausahaan dengan logika bahwa siswa mampu menghasilkan karya/produk yang memiliki nilai ekonomis dan sekaligus memasarkan/menjualnya sehingga bukan hanya karya/produk tanpa makna tetapi dapat menjadi nilai lebih yang pada akhirnya dapat memotivasi siswa untuk menjadi wirausahawan.
  5. Guru sudah saatnya berorientasi bukan pada pembelajaran berbasis kognitif rendah  tetapi saatnya sampai pada metakognitif dan juga bukan hanya praktik untuk membuktikan teori tetapi praktik yang berorientasi pada produk/karya nyata yang juga memiliki nilai ekonomis sehingga pembelajaran lebih menarik dan bermakna serta tetap dengan senantiasa meningkatkan nilai-nilai (value) sehingga lulusannya juga memiliki karakter yang kuat. Dengan demikian multi program dan pendekatan pembelajaran yang bervariasi yang berpusat kepada siswa menjadi keniscayaan dalam setiap kegiatan pembelajaran.

:)

 

  1. Nama Kegiatan        : Workshop Penerapan Kurikulum 2013 SMA/SMK Kabupaten      
  2. Penyelenggara        : Panitia Workshop Kurikulum 2013 SMA/SMK Kabupaten Banjarnegara
  3. Dasar Keikutsertaan : Surat dari Panitia Workshop Kurikulum 2013 SMA/SMK Kabupaten Banjarnegara Nomor. 01/WK SMa-SMK/I/2013 perihal Undangan Workshop tanggal 12 Januari 2013.
  4. Perwakilan SMK Negeri 2 Bawang : a. Drs. Firdaus Achmad, M.M. (Kepala Sekolah); b. Agus Saefudin, S.Pd.  (Wakasek 1. Kurikulum dan Ketenagaan / Guru Mapel. TAV); c. Dhian Nur Laeli, S.Pd.                     (Urs. Pengajaran / Guru Mapel. Matematika)
  5. Waktu Kegiatan     : Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2013 .
  6. Jadwal Kegiatan

Hari, Tanggal

Kegiatan

Waktu

Nara Sumber / Petugas

Sabtu,

19 januari 2013

  1. Pendaftaran Peserta
  2. Pembukaan
  3. Ishoma
  4. Materi I : Kebijakan Dindikpora Kabupaten Banjarnegara
  5. Materi II : Sosialisasi Kurikulum 2013
  6. Ishoma

12.00 – 13.00

14.00 – 17.00

17.30 – 19.00

19.30 – 20.30

20.30 – 22.00

22.15 – 07.00

Panitia

Panitia

Panitia

Kepala Dindikpora Kab. Banjarnegara (Drs. Muhdi)

Puskur Jakarta

(Drs. Naniwati, M.Si.)

Panitia

Minggu,

20 januari 2013

  1. Materi III : Outbond
  2. Ishoma
  3. Penutupan

07.30 – 10.30

10.30 – 11.30

11.30 – 12.00

Instruktur

Panitia

Panitia

 

HASIL KEGIATAN

  1. Pembukaan 
    1.  Menyanyikan lagu Indonesia Raya
    2.               Do’a Pembukaan oleh Drs. H. Ibnu Azhar, M.M.

    1. Sambutan dan Pembukaan oleh Ketua Penyelenggara (Drs. Firdaus Achmad, M.M.)

  • Bersyukur karena telah diberi ilmu sehingga dapat bertemu dalam acara Workshop Persiapan Penerapan Kurikulum 2013 di Baturaden Purwokerto;
  • Kegiatan ini juga merupakan sillaturahmi antara SMA dengan SMK.
  • Kegiatan Workshop Persiapan Penerapan Kurikulum 2013 dilatar belakangi bahwa pada hari Minggu, 13 januari 2013 Pengurus MKKS SMA dan SMK Kabupaten Banjarnegara telah menerima informasi secara langsung dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (Muh. Nuh)) tentang Kurikulum 2013;
  • Tujuan kegiatan ini adalah sillaturahmi dan bersama-sama mendengarkan Kurikulum 2013 dari sumber utama dari Pusat Kurikulum Jakarta dan selanjutnya akan dilaksanakan pembahasan Struktur Kurikulum SMA dan SMK secara terpisah dikarenakan SMK terlalu rumit;
  • Jumlah peserta Workshop Persiapan Penerapan Kurikulum 2013 adalah 68 terdiri dari 26 SMA dan 42 SMK, peserta adalah Kepala SMA/SMK, Wakasek. Kurikulum, dan guru;
  • Waktu pelaksanaan kegiatan 2 hari, yaitu Sabtu – Minggu, 19 – 20 Januari 2013;
  • Sumber Dana adalah gotong royong dari seluruh peserta dan tidak ada sponsor;
  • Harapan setelah kegiatan: (1) tidak ada lagi pembeda/jarak antara SMA dengan SMK, (2) Anak-anak di Banjarnegara adalah anak kita bersama, sehingga diharapkan kita dapat meberikan layanan pendidikan terbaik bagi Banjarnegara dan dalam waktu dekat saat pelaksanaan PPDB tidak lagi terjadi miskomunikasi dan saling gontok-gontokan;
  • Kegiatan Workshop Persiapan Penerapan Kurikulum 2013 dibuka dengan mengucapkan basmallah.

 

2. Sambutan Pengarahan dan Materi I : Kebijakan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Banjarnegara oleh Kepala Dindikpora Drs. H. Muhdi

  • Kepala Dindikpora Kab. Banjarnegara menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Bapak/Ibu guru karena telah dengan ikhlas mengikuti kegiatan Workshop Persiapan Penerapan Kurikulum 2013 pada hari libur (akhir pecan) sehingga meninggalkan keluarga;
  • Disampaikan penghargaan karena dua kekuatan dalam duania pendidikan di Banjarnegara, yaitu: SMA dan SMKI bertemu dalam satu kegiatan bersama;
  • Dinamika pendidikan di Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada permasalahan Kurikulum 2013 dan penghapusan RSBI;
  • Kurikulum 2013 menurut Kepala Dindikpora Kab. Banjarnegara sebenarnya tidak berubah masih tetap KTSP hanya beberapa substansi disesuaikan karena salah satu pilar pembangunan pendidikan adalah mengenai relevansi, sehingga hal-hal yang sudah tidak relevan harus disesuaikan dan tuntutan jaman berubah dan generasi juga berubah;
  • Ledakan Generasi Emas diperkirakan terjadi pada kurun waktu 2020 – 2050 yang dikatakan dapat membuat sebuah Negara baru. Hal ini harus disikapi dan diantisipasi dengan memberikan warisan yang terbaik pada mereka melalui dunia pendidikan;
  • Yang disampaikan dalam materi uji publik diharapkan dapat menyerap aspirasi dan masukan-masukan dari masyarakat untuk melengkapi dan menyempurnakan draft Kurikulum 2013;
  • Guru diharapkan tidak perlu takut karena merupakan khalifah di muka bumi;
  • Pesan Kepala Dindikpora Kab. Banjarnegara agar kualitas yang selama ini telah diraih dapat dipertahankan dan ditingkatkan terus melalui strategi dan program-program layanan pendidikan berkualitas dan Dindikpora akan mendukung/membackup program dari sekolah.

 

  1. Materi II : Sosialisasi Kurikulum 2013 oleh Drs. Niniswati, M.Si. (Kasubdit. Pembelajaran Seksi Pelaksanaan Kurikulum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan republic Indonesia)
  • Kemendikbud Pusat melayani kebutuhan masyarakat, bukan ganti menteri ganti kurikulum. KTSP yang  mulai diterapkan tahun 2006 belum selesai sudah diganti dengan Kurikulum 2013. KTSP banyak mendapat kritikan dan julukan dinataranya Kurikulum Tidak Siap Pakai atau Kurikulum Terserah Sekolahe Panjenengan. Hal ini dikarenakan di lapangan guru tidak siap dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum dan banyak terjadi copy paste antara sekolah satu dengan yang lain tanpa melalui adopt and adapt, meskipun sesungguhnya boleh melakukan adopsi kurikulum dari sekolah lain tetapi tetap harus diadaptasikan dengan kondisi sekolah yang ada, missal dalam hal sarana dan prasarana. Berangkat dari hal ini maka DPR dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bersepakat untuk mengubah kurikulum. Hal ini juga dilatarbelakangi kondisi kenakalan remaja jaman sekarang yang sangat marak (tawuran, narkoba, seks bebas, dan hedonism) serta teori tentang metakognitif yang menyatakan bahwa anak-anak seyogyanya tidak hanya diberi teori ilmu tetapi juga sampai pada tingkatan metakognitif yang merupakan kemampuan menyesuaikan diri dan berpikir tentang lingkungannya. Demikian juga hasil evaluasi para ahli/professor bidang pendidikan dan kementerian yang menytakan sudah saatnya kurikulum diubah menjadi lebih baik lagi;
  • Disajikan materi paparan Mendikbud (M. Nuh) dalam Sosialisasi Kurikulum 2013. Hal yang mendapatkan perhatian adalah bahwa kelompok mata pelajaran pada kurikulum 2013 dibagi menjadi 3, yaitu:

a)         Kelompok A, meliputi: Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Sejarah Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris. Dalam Kelompok A ini antara SMA dengan SMk sama dan semua materi, silabus dan buku yang terdiri dari buku pegangan guru, buku pegangan siswa, dan silabujs disiapkan semuanya oleh pusat dan sekolah tinggal menggunakan saja;

b)        Kelompok B, meliputi: Seni Budaya, Prakarya, dan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olah Raga. Kelompok B ini pengembangan disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing;

c)         Kelompok C, merupakan kelompok peminatan. Perbedaan antara antara SMA dan SMK terletak pada mata pelajaran kelompok C ini. Contoh usulan mata pelajaran yang termasuk pada Kelompok Peminatan SMK adalah Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris Vokasi dan Keterampilan/Kejuruan.

  • Permasalahan Kurikulum 2006, yaitu:
  1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak;
  2. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional;
  3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistic domain sikap, keterampilan dan pengetahuan;
  4. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya: pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skill dan hard skill, dan kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum;
  5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan social yang terjadi pada tingkat local, nasional, maupun global;
  6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;
  7. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (si9kap, keterampilan dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya remidiasi secara berkala;
  8. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
  • Contoh struktur kurikulum ditunjukkan oleh tabel berikut.

Tabel 1. Struktur Kurikulum Pendidikan Menengah

Struktur Kurikulum

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Contoh Usukan Struktur Kurikulum SMK Bidang Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa

Struktur Kel C_SMK Tekind

Hasil Diskusi: Usulan Struktur Kurikulum SMK Kab. Banjarnegara Bidang Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa

Struktur Kurikulum SMK Kab. Banjarnegara Bidang Studi Keahlian Teknologi dan Rekayasa yang diusulkan dalam diskusi Kepala Sekolah, Wakasek. Kurikulum dan guru-guru SMK Tekind ada perbedaan dengan contoh usulan dari Kemendikbud, yaitu dalam hal:

a)      Diterapkannya system blok untuk mata pelajaran wajib pada kelompok A, yaitu: PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah Indonesia, serta Kelompok B untuk Seni Budaya.  Mata pelajaran-mata pelajaran ini diajarkan hanya pada kelas X dan XI saja;

b)      Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Bahasa Inggris diajarkan dari kelas X hingga XII. Hal ini didasarkan bahwa pendidikan agama merupakan pembentuk akhlakul karimah yang utama saat siswa bersekolah, sedangkan mata pelajaran Bahasa Inggris diajarkan pada kelas XII semester 5 dan 6 adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan berbahasa Inggris yang dapat diterapkan dalam dunia usaha/industri, termasuk di dalamnya pada tingkat XII lebih berorietasi pada bahasa Inggris aplikatif untuk profesinya/vokasi;

c)       Diajarkannya mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan dari kelas X sampai dengan XII dengan pertimbangan bahwa siswa perlu dibekali keterampilan karya (produk) yang mempunyai nilai ekonomi (nilai jual) sesuai dengan kompetensi keahliannya, termasuk pada tingkatan lebih tinggi dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri (wirausaha);

d)      Dimasukkannya mata pelajaran Keterampilan Komputer Pendukung Kompetensi pada kelompok C dan diajarkan pada kelas X dan XI. Hal ini didasarkan bahwa kompetensi keahlian yang dikuasai siswa dapat senantiasa diperbaharui sesuai dengan perkembangan dan tuntutan kemajuan jaman karena dengan menguasai ilmu komputer maka akan dapat mengembangkan diri dengan lebih baik.

Demikian laporan yang dapat disusun. Catatan yang seharusnya menjadi perhatian kita semua dalam mempersiapkan diri menghadapi implementasi Kurikulum 2013 mendatang menurut hemat kami adalah:

1. Struktur Kurikulum yang disampaikan di atas masih belum final artinya masih ada kemungkinan perbaikan dan kita berharap pada akhirnya semua adalah yang terbaik untuk anak didik kita;

2. Prakerin yang dilaksanakan pada tingkat XII selama 4 bulan perlu dicermati dengan sungguh-sungguh dan diprogam dengan lebih baik lagi karena menjalin kerja sama dengan dunia usaha/industri tidak lah mudah;

3. Ujian Nasional yang dilaksanakan di Kelas XI perlu mendapat perhatian yang serius karena menyangkut kelulusan sekolah siswa kita dan banyak aspek yang harus diperhatikan kaitannya dengan psikologi dan kesiapan siswa menhadapi Ujian Nasional lebih dini;

4. Kelas XII menitikberatkan pada penguasaan kompetensi keahhlian dan persiapan memasuki dunia kerja. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus berkaitan dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang akan mengeluarkan sertifikat kompetensi keahlian di Banjarnegara belum ada dan bagaimana dengan siswa yang mempunyai ciita-cita untuk melanjutkan ke peguruan tinggi ?

Ehmm… masih banyak yang harus didiskusikan dan kita pikirkan bersama untuk kebaikan akan-anak kita semua.

Wallahu’alam bi showab.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.025 pengikut lainnya.