URGENSI SEKOLAH UNGGUL

Oleh: Agus Saefudin

 

Pada saat ini, kemajuan sekolah merupakan esensi dari pengelolaan sekolah melalui pemeliharaan mutu, responsif terhadap tantangan dan antisipatif terhadap perubahan-perubahan yang diakibatkan dari berubahnya tatanan internal maupun dunia kesejagatan, sehingga tidak menimbulkan keadaan bergejolak (turbulent) dan penuh ketidakpastian (uncertainty) yang dapat mengancam runtuhnya berbagai tatanan yang telah diciptakan sedemikian rupa. Dengan demikian, kemajuan jaman dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adaptasi dari sekolah agar tetap mampu menjaga eksistensinya. Pada kenyataannya banyak sekolah yang gagap menanggapi perkembangan jaman sehingga akhirnya tersingkir dalam persaingan. Dalam hal ini sekolah sebagaimana sebuah organisasi yang membutuhkan manajemen yang teratur dan terkoordinasi dengan baik untuk menjamin kualitas layanan pendidikan yang diberikan pada peserta didiknya. Kualitas merupakan satu hal utama yang diinginkan orang tua dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang tidak mempermasalahkan soal biaya yang tinggi asalkan anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Kenyataan ini dilatarbelakangi oleh anggapan umum bahwa sekolah merupakan investasi yang menjanjikan kesuksesan di masa depan (Barnawi dan Arifin, 2013).

Sekolah unggul yang merupakan sekolah efektif melaksanakan kegiatan pembelajaran berkualitas serta menyelenggarakan pelayanan pendidikan sesuai dengan program yang telah direncanakan secara matang berdasarkan visi, misi dan tujuan sekolah sehingga menghasilkan lulusan paripurna yang berkualitas. Sekolah efektif merupakan keniscayaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar dapat memenuhi tugas kehidupan dalam masyarakat serta kompetitif dalam persaingan global.

Efektivitas sekolah terdiri dari dimensi manajemen dan kepemimpinan sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan personiel lainnya, yaitu: siswa, kurikulum, sarana dan prasarana, pengelolaan kelas, hubungan sekolah dengan masyarakat, pengelolaan bidang khusus lainnya dengan hasil nyata merujuk pada hasil yang diharapkan bahkan menunjukkan kedekatan antara hasil nyata dengan hasil yang diharapkan. Efektivitas sekolah dapat juga ditelaah dari masukan yang merata, keluaran yang banyak dan bermutu tinggi, ilmu dan keluaran ang relevan dengan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun, serta pendapatanlulusan yang memadai (Komariah dan Triatna, 2008: 8).

Efektivitas merupakan suatu dimensi tujuan manajemen yang berfokus pada hasil, sasaran, dan target yang diharapkan. Sekolah yang efektif adalah sekolah yang menetapkan keberhasilan pada input, proses, output, dan outcome yang ditandai dengan berkualitasnya komponen-kompone sistem tersebut. Dengan demikian, efektivitas sekolah bukan sekedar pencapaian sasaran atau terpenuhinya berbagai kebutuhan untuk mencapai sasaran, tetapi berkaitan erat dengan syarat komponen-komponen sistem dengan mutu, dengan kata lain ditetapkannya pengembangan mutu sekolah.

Kualitas sekolah dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun prestasi bidang lain, serta lulusannya relevan dengan tujuan. Melalui siswa yang berprestasi dapat ditelusuri manajemen sekolahnya, profil gurunya, sumber belajar, dan lingkungannya. Dengan demikian kualitas sekolah adalah kualitas siswa yang mencerminkan kepuasan pelanggan, asanya partisipasi aktif manajemen dalam proses peningkatan kualitas secara terus menerus, pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab yang spesifik terhadap kualitas, setiap individu dalam sekolah dan stakeholder menyadari serta merealiasasikan prinsip “mencegah kerusakan”, dan melaksanakan pandangan bahwa kualitas adalah cara hidup (way of live).

Syafarudin (2002) menyatakan bahwa untuk mencapai mutu sekolah efektif, maka kepala sekolah dan guru-guru juga harus menjalankan fungsi secara efektif. Kepala sekolah efektif ialah kepala sekolah yang menjalankan kepemimpinannya secara efektif. Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan kepala sekolah adalah mereka yang membuka dri untuk adanya pengaruh guru dan pegawai terhadap persoalan penting. Kepemimpinan efektif berimplikasi terhadap produktivitas sekolah. Guru yang efektif adalah guru yang memberikan pelajar peuang-peluang maksimal untk belajar. Dengan kata lain, efektivitas guru adalah dalam konteks mengajar. Mengajar efektif adalah kegiatan menajar yang menciptakan iklim kondusif bagi pelajar untuk belajar dengan baik da berhasil. Guru yang efektif juga menempatkan diri sebagai teladan atau model dalam pandangan pelajar untuk mencapai tujuan pendidikan.

Penyelenggaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam konteks mutu pendidikan. Di lingkungan sistem persekolahan, konsep mutu pendidikan dipersepsi berbeda-beda oleh berbagai pihak. Menurut persepsi kebanyakan orang, termasuk orang tua dan masyarakat oada umumya, mutu pendidikan di sekolah secara sederhana dilihat dari perolehan nilai atau angka yang dicapai seperti ditunjukkan dalam hasil ulangan dan ujian. Sekolah dianggap bermutu apabila sebagian besar atau seluruh siswanya memperoleh nilai yang tinggi sehingga bagi lulusan SMA berpeluang besar melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dan bagi lulusan SMK mudah dalam mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensi keahliannya. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar yang dapat dipercaya dan menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kompetensi menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa kuantitatif dan kualitatif (Ihtiati, 2012: 118).

Kinerja sekolah unggul dapat digambarkan sebagai satu kesatuan sistem yang terdiri dari input, proses, output, dan outcome. Komponen input merupakan potensi dasar yang akan dikembangkan untuk selanjutnya diproses melalui teknik tertentu dengan pemanfaatan sarana dan prasarana serta semua potensi internal untuk mencapai kualitas output. Pencapaian kualitas output sangat dipengarhi oleh adanya kualitas proses internal yang dilakukan.

JOBSHEET: MERENCANAKAN, MERAKIT DAN MENGUJI RANGKAIAN CATU DAYA LINEAR POLARITAS GANDA DENGAN REGULATOR IC 7812 DAN 7912

Catudaya (power supply) disebut juga sebagai adaptor adalah sumber tegangan DC yang digunakan untuk memberikan tegangan atau daya kepada berbagai rangkaian elektronika yang membutuhkan tegangan DC agar dapat beroperasi. Rangkaian pokokdari catu daya tidak lain adalah suatu penyearah yakni suatu rangkaian yang mengubah sinyal bolak-balik (AC) menjadisinyalsearah (DC).

Catu daya linear polaritas ganda (polaritas ganda) merupakan rangkaian catu daya yang menghasilkan keluaran berupa polaritas ganda, yaitu: tegangan positif terhadap ground dan tegangan negatif terhadap ground. Rangkaiancatu daya linear polaritas ganda secara umum dibangun dari komponen trafo step down CT sebagai penurun tegangan dan mempunyai bagian sekunder polaritas ganda, rangkaian dioda penyearah berupa sistem jembatan (bridge system), filter dan rangkaian regulator menggunakan IC dengan seri 78XX sebagai regulator tegangan positif dan 79XX sebagai regulator tegangan negatif.

Jobsheet lengkap download disini.

IMPLEMENTASI ROBOT CERDAS DALAM KEHIDUPAN MANUSIA: MENUJU KESEJAHTERAAN ATAU KEHANCURAN

Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat dan menakjubkan.Banyak negara di dunia ini yang melakukan riset dalam hal perkembanganrobot. Seolah tak mau kalah negara-negara maju, seperti: Amerika Serikat,Jepang, Korea selatan dan China terus melakukan inovasi dalam halperancangan dan penggunaan teknologi tinggi (high tech) dalam menciptakan robot-robot cerdas dengan menerapkan kecerdasan buatan (artificial intellegent). Teknologi robot diyakini sebagai salah satu bidang keilmuan yangakan dapat mengubah peradaban manusia dan sampai saat ini penelitian danpengembangan teknologi robot terus dilakukan dalam rangka mencapaikehidupan yang lebih nyaman. Para pemikir dan ilmuwan tidak pernahberhenti untuk membuat sesuatu yang baru. Robot digunakan untukmempermudah dan membantu pekerjaan manusia, bidang industri robotdigunakan untuk mempercepat pekerjaan manusia, sehingga proses produksilebih cepat
Makalah lengkap download disini. 

PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT MADANI

Oleh: Agus Saefudin

A. Latar Belakang

Tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pembangunan dalam segenap aspek kehidupan dalam rangka mencapai tujuan bernegara tersebut sejatinya adalah sama dengan menciptakan masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan cita-cita bersama bangsa dan negara yang sadar akan pentingnya suatu keterikatan antar komponen kehidupan berbangsa dan negara demi terciptanya kemajuan dan kemandirian melalui pembangunan berkelanjutan yang menyejahterakan, pengentasan kemiskinan, peningkatan daya saing dan kesiapan menghadapi globalisasi.

Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini dapat terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu dengan menjadikan masusia sebagai subyek karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi untuk berkembang. Pengembangan segenap potensi manusia ini merupakan proses yang diharapkan dapat merubah watak, sikap dan perilaku sesuai dengan harkat dan martabat manusia yang beradab sehingga tujuan dan cita-cita berbangsa dapat dicapai. Dengan demikian pembangunan merupakan usaha pengubahan dari keadaan yang tidak diinginkan (dystopia) menuju keadaan yang diinginkan (utopia) dengan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan.

Banyak kendala yang harus dihadapi bangsa Indonesia sehingga sampai dengan saat ini belum dapat dikatakan sebagai masyarakat madani (civil society). Kendala-kendala tersebut, diantaranya: (1) masih rendahnya minat partisipasi warga masyarakat terhadap kehidupan politik Indonesia dan kurangnya rasa nasionalisme, yaitu kurang peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi negara, (2) masih rendahnya sikap toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama, (3) masih rendahnya kesadaran individu dalam kesimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan kewajiban, (4) kualitas sumber daya manusia (SDM) yang  belum memadai karena pendidikan yang belum merata, (5) masih rendahnya pendidikan politik masyarakat, (6) kondisi ekonomi nasional yang belum stabil, (7) tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja terbatas, (8) tingginya angka kemiskinan, dan (9) kondisi sosial politik serta demokrasi yang belum mapan. Lebih lanjut Ilham Nur Alfian (2005: 2) menyatakan bahwa rendahnya sikap toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama disebabkan adanya kemajemukan warga negara Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya, ras dan agama. Kemajemukan jika tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan banyak persoalan, seperti: korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain.

Pengembangan potensi manusia agar dapat terealisasi sebagai sumber daya utama dalam mewujudkan masyarakat madani secara efektif dilaksanakan melalui jalur pendidikan. Pendidikan merupakan proses perubahan atau pendewasaan manusia yang berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak paham menjadi paham dan sebagainya. Pendidikan dapat dilakukan dimana saja, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara karena pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sesuai dengan dasar negara yang menjadi falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia maka pendidikan yang berdasarkan Pancalisa dan Undang-undang Dasar 1945 merupakan pendidikan yang tepat untuk menciptakan masyarakat madani di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Rafael Raga Maran (2007: 109) yang menyatakan bahwa dari nilai-nilai Pancasila tercermin pandangan hidup manusia Indonesia tentang hakikat keberadaannya di dunia ini. Di sini kita berhadapan dengan suatu cara pikir yang melihat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berada dalam jaringan relasi-relasi fundamental. Jaringan relasi fudamental berdasarkan Pancasila, yaitu relasi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama), relasi manusia dengan sesamanya (sila kedua), relasi manusia dengan tanah air-nusa-bangsanya (sila ketiga), relasi manusia dengan pemimpin masyarakat atau kekuasaan dan pemerintahan negara (sila keempat), dan relasi menusia dengan masyarakat atau negara sebagai kesatuan sosial dalam  rangka realisasi kesejahteraan umum (sila kelima). Dengan demikian masyarakat madani (civil society) diasosiasikan sebagai masyarakat beradab (civilized) yang mengandung kehidupan sosial yang sopan dan ditegakkan atas dasar akar hak, kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh pada peraturan atau hukum dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

B. Menjadi Masyarakat Madani

Pada masa sekarang ini Indonesia membutuhkan dan tengah mengarahkan segenap aspek pembangunan pada berkembangnya masyarakat madani sebagaimana amanah dan tujuan negara, yaitu:  memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kondisi Indonesia yang dilanda euphoria demokrasi, semangat otonomi daerah, dan derasnya globalisasi membutuhkan masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan hidup bersama dalam sikap saling menghargai dan toleransi dalam kemajemukan yang tidak saling mengekslusifkan terhadap berbagai suku, agama, bahasa, ras, dan adat  yang berbeda. Kepedulian, kesantunan, dan setia kawan merupakan sikap yang sekaligus menjadi prasaran yang diperlukan bangsa Indonesia.

Pengembangan masyarakat madani di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia sendiri. Kebudayaan, adat istiadat, pandangan hidup, kebiasaan, rasa senasib sepenanggungan, cita-cita dan hasrat bersama sebagai warga dan sebagai bangsa, tidak mungkin lepas dari lingkungan serta sejarahnya. Lingkungan dan akar sejarah kita, warga dan bangsa Indonesia, sudah diketahui baik kekurangan maupun kelemahan, juga diketahui kelebihan dan keunggulannya. Di antara keunggulan bangsa Indonesia, adalah berhasilnya proses akulturasi dan inkulturasi yang kritis dan konstruktif. Pada saat ini, ada pertimbangan lain mengapa pengembangan masyarakat madani harus secara khusus diberi perhatian. Kita hidup dalam jaman, di mana interaksi tidak saja berlangsung secara domestik dan regional, tetapi sekaligus secara global. Dari idiom yang kita pakai, kemauan dan kemampuan kita untuk adaptasi, akulturasi, dan inkulturasi, lebih-lebih lagi sangat kita perlukan dalam masa reformasi menuju demokratisasi dewasa ini.

Masyarakat madani Indonesia adalah masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, secara politik ekonomi dan budaya bersifat mandiri, serta memiliki pemerintahan demokratis. Secara umum ada 3 (tiga) karakteristik dasar dalam masyarakat madani, yaitu:

  1. Diakuinya semangat pluralisme, artinya pluralisme telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak, pluralitas telah menjadi kaidah yang abadi. Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati (given) dalam kehidupan. Pluralisme bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif dan dinamis serta merupakan sumber dan motivator terwujudnya kreativitas, yang terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan. Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita adalah sebuah perbedaan yang kosmopolit akan tercipta manakala manusia memiliki sikap inklusif dan mempunyai kemampuan (ability) menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar.
  2. Tingginya sikap toleransi baik terhadap saudara sesama agama maupun terhadap umat agama lain. Secara sederhana toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar serta menghargai pendapat dan pendirian orang lain. Tujuan agama senyatanya tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah agama ansich, namun juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya hak hidup berdampingan dan saling menghormati satu sama lain.
  3. Tegaknya prinsip demokrasi. Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan persaingan, demokrasi adalah suatu pilihan untuk bersama-sama membangun dan memperjuangkan perikehiduan warga dan masyarakat agar semakin sejahtera. Masyarakat madani mempunyai ciri-ciri ketakwaan yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa, hidup berdasarkan sains dan teknologi, berpendidikan tinggi, mengamalkan nilai hidup modern dan progresif, mengamalkan nilai kewarganegaraan, akhlak dan moral yang baik, mempunyai pengaruh yang luas dalam proses membuat keputusan dan menentukan nasib masa depan yang baik melalui kegiatan sosial, politik, dan lembaga masyarakat.

Ada 6 (enam) faktor yang harus diperhatikan untuk membangun masyarakat madani di Indonesia, yaitu:

  1. Adanya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang melandasi moral kehidupan;
  2. Adanya perbaikan di sektor ekonomi dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dan dapat mendukung kegiatan pemerintahan;
  3. Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun manusia yang memiliki komitemen untuk merdeka (independent);
  4. Terjadinya pergeseran budaya dari masyarakat yang berbudaya paternalistik menjadi budaya yang lebih modern dan lebih independent;
  5. Berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam;
  6. Adanya partisipasi aktif dalam menciptakan tata pamong yang baik (clean goverment).

Masyarakat madani di Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 karena negara Republik Indonesia dibangun di atas dasar Pancasila yang sudah menjadi fakta historis yang tak terbantahkan oleh siapapun juga. Dengan demikian, negara Republik Indonesia pun secara khas membedakan diri dari negara-negara lain yang ada di dunia. Perbedaan yang sangat mencolok terletak pada fakta bahwa Pancasila berisikan seperangkat asas moral yang mencerminkan pandangan hidup yang telah dikembangkan oleh manusia Indonesia selama berabad-abad dalam lintasan sejarah kebudayaan. Sering dikatakan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai kultural bangsa Indonesia sendiri. Dari nilai-nilai Pancasila tercermin pandangan hidup manusia Indonesia tentang hakikat keberadaannya di dunia ini. Di sini kita berhadapan dengan suatu cara pikir yang melihat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berada dalam jaringa relasi-relasi fundamental. Yakni relasi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (sela pertama), relasi manusia dengan sesamanya (sela kedua), relasi manusia dengan tanah air-nusa-bangsanya (sila ketiga), relasi manusia dengan pemimpin masyarakat atau kekuasaan dan pemerintahan negara (sila keempat), dan relasi menusia dengan masyarakat atau negara sebagai kesatuan sosial dala  rangka realisasi kesejahteraan umum (sila kelima).

Dengan landasan dan pandangan hidup Pancasila dan UUD 1945 ini maka karakteristik masyarakat madani Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Demokratis yang sehat dan bertanggung jawab;
  3. Berkedaulatan yang memperjuangkan rakyat;
  4. Menghargai perbedaan pendapat dalam bingkai kepentingan bersama sebagai bangsa multikultural;
  5. Menghormati hak dan kewajiban azasi manusia;
  6. Menjunjung supremasi hukum;
  7. Mampu mewujudkan dinamis antara tatanan (disiplin) sosial dan otonomi individu secara seimbang, selaras dan serasi;
  8. Mengefektifkan kontrol sosial dan menjaga iklim kehidupan yang sejuk;
  9. Terbuka (transparan), saling percaya antar golongan demi kerukunan hidup, berkesinambungan antara agama, suku, golongan demi kelestarian ideologi bangsa, lingkungan hidup, dan pengembangan kebudayaan nasional yang ber-Bhineka Tunggal Ika; dan
  10. Berketahanan nasional dalam menyikapi abad informasi, teknologi, komunikasi, dan kebudayaan global.

C. Pendidikan Nasional Mewujudkan Masyarakat Madani Indonesia

Pendidikan yang merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan diyakini sebagai jalan dan langkah yang tepat dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia karena hakikat pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dalam menumbuhkembangkan eksistensi manusia baik sebagai makhuk individu maupun sosial, serta pendidikan juga menjamin eksistensi masyarakat untuk terus berkembang semakin dewasa dan beradab.

Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sesungguhnya berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan adi luhung bangsa Indonesia. Dengan akar dan dasar yang kuat ini maka melalui pendidikan  dapat dikembangkan segenap potensi peserta didik baik keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan menjadi manifestasi sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri, serta pada tumbuh sebagai warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan generasi muda paripurna yang merupakan lulusan pendidikan berkualitas maka kehidupan berbangsa juga akan berkembang semakin maju baik dalam hal kemampuan bangsa mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, watak bangsa yang berjati diri luhur dan tangguh, bangsa yang berperadaban modern, bermartabat, dan cerdas.

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan masyarakat madani karena pada dasarnya, pendidikan adalah hal yang sangat diperlukan dalam mewujudkan masyarakat beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya. Upaya untuk mengaktualisasikan masyarakat madani di Indonesia melalui pendidikan kelihatannya masih harus menempuh jalan panjang. Pendidikan haruslah melakukan reorientasi dan berusaha menerapkan paradigma baru pendidikan nasional, yang tujuan akhirnya adalah pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis dan berpegang teguh pada nilai-nilai civilitty.

Pendidikan nasional telah melakukan banyak upaya dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang sampai saat ini telah dan sedang dilaksanakan sebagai proses berkesinambungan dalam menumbuh-kembangkan eksistansi manusia yang memasyarakat dan masyarakat yang membudaya. Upaya-upaya pendidikan sebagai bagian integral dari pembangunan Indonesia mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan bernegara yang berarti pula sebagai proses menuju masyarakat madani yang diidamkan, sebagai berikut:

  1. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan masyarakat madani karena  merupakan sistem penanaman nilai-nilai perilaku kepada peserta didik meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan hidup dan kebangsaan sehingga menjadi manusia paripurna (insan kamil). Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen pemangku pendidikan harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu: isi kurikulum, poses pembelajaran dan penilaian, pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah. Dengan pendidikan karakter diharapkan peserta didik menjadi manusia paripurna yang siap menjadi generasi tangguh membangun diri sendiri, keluarga dan lingkungannya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu sehingga pada tataran luas masyarakat madani dapat terwujud.

  1. Implementasi Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 dikembangkan dan diterapkan secara kontekstual untuk merespons kebutuhan daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Kurikulum 2013 disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa; (b) peningkatan akhlak mulia; (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; (f) tuntutan dunia kerja; (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama; (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Dari amanah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah ditegaskan bahwa kurikulum dikembangkan secara berdiversifikasi dengan maksud agar memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah serta peserta didik, serta kurikulum dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat satuan pendidikan. Implementasi Kurikulum 2013 diharapkan dapat menjawab tantangan kemajuan jaman dan globalisasi dengan menyiapkan generasi paripurna yang memiliki kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) sehingga peserta didik diharapkan tidak hanya mempunyai pengetahuan kognitif, tetapi juga mempunyai attitude dan psikomotorik yang mumpuni. Keberhasilan penerapan kurikulum 2013 diyakini akan dapat mewujudkan masyarakat madani.

  1. Pendekatan Pembelajaran Partispasi dan Berpikir Orde Tinggi

Pendekatan pembelajaran partisipasi yang menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran yang didukung berpikir orde tinggi akan dapat meningkakan keberhasilan pembelajaran siswa. Ada 3 (tiga) alasan pentingnya pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, yaitu: (a) mengacu pada buku Six Simple Rules: How to Manage Complexity Without Getting Complicated (Morieux and Tollman, 2014) yang menyebutkan bahwa tingkat kompleksitas dalam periode 20 – 30 tahun meningkat 35 kali lpat. Hal ini berarti persoalan dan solusi di masa depan bertambah rumit; (b) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan kompleksitas tersendiri sehingga diperlukan orang-orang yang berpikir kritis; (c) pendekatan partisipatory teaching methode memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan passive teaching methode.

Metode pembelajaran partisipasi yang mencakup diskusi kelompok, praktik di laboratorium atau kerja sosial, dan presentasi mempunyai daya serap yang tinggi bagi peserta didik mencapai 50 – 90 persen. Sehingga dalam pembelajaran dikedepankan kegiatan observasi, bertanya, bereksperimen, berpikir nalar, dan menyampaikan pendapat. Dengan pendekatan pembelajaran partsipasi dan berpikir orde tinggi ini maka diharapkan peserta didik mampu berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan yang bertambah rumit. Dengan demikian diharapkan pada saat terjun di masyarakat, mereka menjadi generasi yang tangguh yang dapat mengatasi tantangan jaman dan mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan yang berarti siap menjadi bagian dari masyarakat madani yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

  1. Pengembangan Peserta Didik Melalui Ekstrakurikuler dan Bimbingan Konseling

Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan lainnya yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling. Kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.

Pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu:  berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab  dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum. Dengan demikian ekstrakurikuler merupakan program kurikuler yang alokasi waktunya tidak ditetapkan dalam kurikulum. Jelasnya bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan perangkat operasional (supplement dan complements) kurikulum yang disusun dan dituangkan dalam rencana kerja tahunan/kalender pendidikan satuan pendidikan.

Kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda; seperti perbedaan sense akan nilai moral dan sikap, kemampuan, dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya. Kegiatan ekstrakurikuler juga memberikan manfaat sosial yang besar.

Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yag mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi.

Pelaksanaan bimbingan konseling memfasilitasi peserta didik yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan social, belajar dan pembentukan karir. Kesemua jenis layanan dan bidang bimbingan serta kegiatan pendukung tercantum dalam program bimbingan konseling, yang terdiri dari program tahunan, program semesteran, program bulanan, program mingguan dan program harian yangsecara substansi berdasarkan kepada kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangannya. Guru Bimbingan konseling atau Konselor sekolah berkolaborasi dengan guru, wali kelas serta orang tua dan para ahli yang dibutuhkan dalam mengentaskan permasalahan yang dihadapi peserta didik.

Dengan demikian melalui kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling diharapkan potensi peserta didik berkembang secara maksimal sehingga pada saat terjun ke masyarakat mampu memberikan kontribusai bagi pembangunan diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya.

  1. Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan bahan kajian yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal dikembangkan dan dilaksanakan pada setiap satuan pendidikan dan berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal. Berkaitan dengan muatan lokal pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan menengah, sedangkanpemerintah daerah kabupaten/kota melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan dasar. Pengelolaan muatan lokal meliputi penyiapan, penyusunan, dan evaluasi terhadap dokumen muatan lokal, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru.

Muatan lokal sebagai bahan kajian yang membentuk pemahaman terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar:

  1. mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya;
  2. memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya; dan
  3. memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai serta aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Muatan lokal dengan demikian memiliki peran yang penting dalam upaya menciptakan masyarakat madani karena melalui muatan lokal peserta didik lebih memahami jati diri, lingkungan alam, sosial dan budayanya sehingga diharapkan setelah terjun di masyarakat dapat menjadi generasi yang bijak dalam mengembangkan diri, keluarga, masyarakat dan juga lingkungannya baik sosial maupun budaya dan pada tataran yag lebih luas menjadi lebih menghargai kemajemukan dan lebih menyintai tanah air Indonesia.

Upaya-upaya pendidikan nasional untuk menciptakan masyarakat madani di Indonesia pada implementasinya tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru dalam proses pembelajaran mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai pengajar dan pendidik sehingga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai kemajuan pendidikan. Dengan demikian untuk mencapai kualitas pendidikan yang tinggi dalam upaya menciptakan masyarakat madani maka peningkatan kualitas guru menjadi hal penting yang harus dilakukan disamping secara profesional semua guru juga harus senantiasa meningkatkan kualitas diri secara terus menerus baik melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pendidikan dan pelatihan, maupun belajar secara mandiri sebagai bagian dari long life education. Peningkatan kualitas pendidikan guru memiliki peran, antara lain:

  1. sebagai salah satu komponen sentral dalam sistem pendidikan;
  2. sebagai tenaga pengajar sekaligus pendidik dalam instansi pendidikan (sekolah maupun kelas bimbingan);
  3. penentu mutu hasil pendidikan dengan mencetak peserta didik yang benar-benar menjadi manusia paripurna, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya diri, disiplin dan bertanggung jawab;
  4. sebagai faktor kunci yang berarti bahwa semua kebijakan, rencana inovasi, dan gagasan pendidikan yang ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan pada tataran praktis dilaksanakan oleh guru;
  5. sebagai pendukung serta pembimbing peserta didik sebagai generasi yang akan meneruskan perjuangan bangsa untuk mengisi kemerdekaan dalam pembangunan nasional serta dalam penyesuaian perkembangaan jaman dan teknologi yang semakin maju;
  6. sebagai pelayan kemanusiaan di lingkungan masyarakat.

Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi guru dalam menyebarkan ilmu pengetahuan merupakan investasi ibadah. Selain itu,  guru juga berperan sebagai pendidik (nurturer) yang berperan  dan berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dari norma-norma yang ada. Selain sebagai kewajiban, mengajar juga merupakan profesi dalam meningkatkan kompetensi kualifikasi akademik.

Guru sebagai pendidik merupakan pelaksana pembangunan pada garda depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu prasyarat bagi masyarakat madani. Kondisi utopis pendidik sebagai pelaksana pembangunan dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Pendidik diharapkan mampu memahami karakteristik unik dari peserta didik dan berupaya memenuhi kebutuhan mereka;
  2. Pendidik sebagai motivator dan fasilitator menghadapi kehidupan yang didominasi nilai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga pendidik harus menguasainya secara luas;
  3. Pendidik harus menjadi resi bijaksana yang menguasai ilmu dan sarat akan nilai moral serta agama sekaligus seniman;
  4. Pendidik sebagai komunikator ulung sekaligus humoris yang memungkinkan menumbuhkembangkan sifat manusiawi peserta didik, seperti: gelak tawa, sedih, prihatin, kesetiakawanan, empati, dan sebagainya;
  5. Pendidik harus menjadi transformator hidup yang sanggup berdialog dan menghidupkan informasi baik elektronik maupun non elektronik kepada peserta didik sehingga manusia yang berjiwa dapat berinisiatif dan inovatif dalam menghadapi kehidupan;
  6. Pendidik harus memiliki solidaritas bangsa yang tinggi karena masyarakat Indonesia sangat majemuk;
  7. Pendidik harus mampu menumbuhkan alam kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menangkal terjadinya penetrasi, dominasi dan ketergantungan peserta didik terhadap budaya asing;
  8. Pendidik harus menjadi pemimpin di muka bumi (khalifah fil ‘ard) yang dalam konteks Indonesia adalah Pancasilais sejati.

Guru sebagai aktor utama dalam pembangunan bidang pendidikan dan mempunyai peran yang penting dalam upaya menciptakan masyarakat madani di Indonesia harus senantiasa bekembang kompetensinya sesuai dengan tuntutan dan kemajuan jaman. Pengembangan guru harus mempehatikan bahwa terdapat hubungan interaktif antara tingkah laku, karakteristik, lingkungan dan tugas guru.

Tingkah laku guru yang merupakan indikator dari kemampuan/kompetensi guru dalam melaksanakan tugas berkaitan dengan pribadi guru yang menjadi pusat dari aktivitas pengembangan baik bakat, abilitas, dan juga kebutuhan dan dipengaruhi lingkungan-lingkungan yang diciptakan untuk pembinaan guru, serta kemampuan guru dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam memenuhi perannya sebagai pendidik. Dengan memperhatikan hal ini maka bentuk pengembangan guru dilaksanakan secara efektif, melalui: supervisi, tugas administrasi, konseling, pengembangan kurikulum dan keilmuan, intervensi klinis, dan pengembangan guru (teacher develpment) secara terus menerus melalui kesadaran belajar sepanjang hayat (long life education) untuk selalalu meningkatkan kompetensinya.

Dari uraian di atas maka dapat ditarik benang merah bahwa masyarakat madani di Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera dapat diwujudkan melalui pendidikan. Upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani harus mendasarkan pada pemberdayaan peserta didik agar menjadi manusia paripurna dan untuk itu guru sebagai pengajar dan pendidik harus melaksanakan tugas pendidikan dengan penuh kasih, dedikasi dan tanggung jawab karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Keberhasilan pembangunan akan membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada akhirnya ketika seluruh warga adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban maju dengan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan serta dilandasi nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi maka masyarakat madani Indonesia akan terwujud.

D. Simpulan dan Saran

Simpulan

  1. Masyarakat madani Indonesia adalah masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, secara politik ekonomi dan budaya bersifat mandiri, serta memiliki pemerintahan demokratis. Ciri-ciri masyarakat madani Indonesia, adalah: (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) demokratis yang sehat dan bertanggung jawab, (c) berkedaulatan yang memperjuangkan rakyat, (d) menghargai perbedaan pendapat dalam bingkai kepentingan bersama sebagai bangsa multikultural, (e) menghormati hak dan kewajiban azasi manusia, (f) menjunjung supremasi hukum, (g) mampu mewujudkan dinamis antara tatanan (disiplin) sosial dan otonomi individu secara seimbang, selaras dan serasi, (h) mengefektifkan kontrol sosial, menjaga iklim kehidupan yang sejuk, (i) terbuka (transparan), saling percaya antar golongan demi kerukunan hidup, berkesinambungan antara agama, suku, golongan demi kelestarian ideologi bangsa, lingkungan hidup, dan pengembangan kebudayaan nasional yang ber-Bhineka Tunggal Ika; dan (j) berketahanan nasional dalam menyikapi abad informasi, teknologi, komunikasi, dan kebudayaan global.
  2. Upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia, ditempuh melalui penerapan kebijakan sebagai berikut: (a) pendidikan karakter, (b) implementasi Kurikulum 2013, (c) pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, (d) pengembangan peserta didik melalui ekstrakurikuler dan bimbingan konseling, dan (e) muatan lokal. Upaya-upaya ini pada implementasinya memerlukan peran penting guru. Bentuk pengembangan guru dilaksanakan secara efektif, melalui: supervisi, tugas administrasi, konseling, pengembangan kurikulum dan keilmuan, intervensi klinis, dan pengembangan guru (teacher develpment) secara terus menerus melalui kesadaran belajar sepanjang hayat (long life education) untuk selalalu meningkatkan kompetensinya.

Saran

  1. Perlu dilakukan pengkajian lebih dalam melalui penelitian yang intensif terhadap upaya pendidikan nasional dalam menciptakan masyarakat madani Indonesia. Variabel-variabel pendidikan karakter, implementasi Kurikulum 2013, pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, pengembangan peserta didik melalui ekstrakurikuler dan bimbingan konseling, dan  muatan lokal yang dibahas pada makalah ini perlu dibuktikan pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran peserta didik yang pada akhirnya akan terjun dalam masyarakat dan menjadi bagian penting dari masyarakat madani di Indonesia.
  2. Perlu ditanamkan kepada guru bahwa upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani harus mendasarkan pada pemberdayaan peserta didik agar menjadi manusia paripurna dan untuk itu guru sebagai pengajar dan pendidik harus melaksanakan tugas pendidikan dengan penuh kasih, dedikasi dan tanggung jawab karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang.

***

Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara

Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat,
di tempat.

16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…

a. terpaksa

b. terpuji

c. tercela

d. terbiasa

Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…

Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.

Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?

 Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…

Nggak, Jo, aku mau jujur aja.

Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya,

Ah, cemen kamu.

 Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo.

 Jujur itu keren.


un generasiUNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil ‘memaksa’ pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.

Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:

“Bagaimana dengan kecurangan UNAS?”

Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.

Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat ‘kejujuran adalah kunci kesuksesan’ itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.

UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa ‘UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan’, dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.

Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS… dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting…

Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator ‘menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan’?

Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, ‘tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?’ melainkan akan langsung bertanya, ‘nilai UNASmu berapa?’.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, ‘kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, ‘kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.

Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata ‘sedikit’ ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, ‘kan?

Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti… apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, ‘tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru’. Tapi, Pak, sekali ini saja… sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.

Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya… beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran…

Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?

Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?

Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?

Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?

Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?

Etiskah menuntut sebelum memberi?

Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?

Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, ‘Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan’. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak ‘UNAS menyenangkan’ itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas…

Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.

Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa “Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!”, tetapi ketika hari H pelaksanaan… voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.

Iya langsung bersih cling begitu, toh?

Nyatanya tidak.

Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat… tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.

Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak… saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka… berharap Tuhan membantu.

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih ‘ah, ini bukan bidang saya’, lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?

Tidak.

Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya… mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.

………

………

………

Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.

Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?

Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.

Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.

Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?

Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, “Kita lihat saja hasilnya nanti.”

Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah ‘don’t judge a book by its cover’, akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para ‘ghost writer UNAS’. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?

Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi…

Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, “Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita”. Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?

(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom ‘saya mengerjakan ujian dengan jujur’ dari lembar jawaban UNAS.)

UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.

Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.

Dan saya tahu itu, Pak.

Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?

Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?

Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?

Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.

Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba…

Dari anakmu yang meredam sakit,
Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.

(Sumber: https://www.facebook.com/notes/nurmillaty-abadiah/dilematika-unas-saat-nilai-salah-berbicara/10152134575249926)

PRE AMP MIC DENGAN OP-AMP

A. TUJUAN
Setelah selesai praktik diharapkan siswa dapat:
1. Mengidentifikasi komponen elektronika pasif dan aktif yang membangun rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
2. Memahami gambar skema rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
3. Menjelaskan prinsip kerja rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
4. Membuat perencanaan PCB rangkaian rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741, meliputi sisi tata letak komponen (componen side) dan jalur hubungan/lay out PCB (solder side);
5. Merakit rangkaian rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
6. Melakukan uji fungsi/uji dengar rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
7. Melakukan pengukuran tegangan kerja rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
8. Melakukan pengukuran respons frekuensi rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741;
9. Membuat grafik respons frekuensi rangkaian pre amp mic dengan menerapkan IC Op-Amp 741.

B. LANDASAN TEORI
Penguat operasional (Op Amp) adalah suatu rangkaian terintegrasi yang berisi beberapa tingkat dan konfigurasi penguat diferensial. Penguat operasional memilki dua masukan dan satu keluaran serta memiliki penguatan DC yang tinggi. Untuk dapat bekerja dengan baik, penguat operasional memerlukan tegangan catu yang simetris yaitu tegangan yang berharga positif (+V) dan tegangan yang berharga negatif (-V) terhadap tanah (ground). Simbol Op-Amp ditunjukkan oleh gambar berikut.
Gb1_Simbol Op_Amp

Gambar 1. Simbol Op-Amp

Jika pada IC Op-Amp ini ditambahkan suatu jenis rangkaian masukkan dan suatu jenis rangkaian umpan balik, maka IC ini dapat dipakai untuk mengerjakan berbagai operasi matematika, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali, mengintegrasi, dsb. Oleh karena itu IC jenis ini dinamakan penguat operasi atau operasional amplifier, disingkat OpAmp. Op-Amp dapat pula dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misalnya sebagai penguat audio, pengatur nada, osilator atau pembangkit gelombang, sensor circuit, dan sebagainya. Op-Amp banyak disukai karena faktor penguatannya besar (100.000 kali).
Op-Amp umumnya terdiri atas tiga stage atau amplifier yang dirangkai secara cascade. Ketiga stage itu masing-masing:
1. Differensitial amplifier
2. Voltage amplifier
3. Output amplifier
Differential amplifier memiliki respon frekuensi yang sangat lebar dan input impedance yang sangat tinggi. Voltage amplifier memberikan penguatan yang sangat tinggi dan output amplifier memberikan output impedance yang sangat rendah sehingga dapat mengeluarkan arus listrik yang besar terhadap beban.

Gb2_Tiga Stage Op_Amp

Gambar 2. Tiga Stage Op-Amp

Tidak seperti amplifier konvesional, Op-Amp mempunyai dua terminal masukkan, yaitu: inverting input dan noninverting input yang masing-masing ditandai dengan “+” dan “-“, sehingga ada dua konfigurasi Op-Amp sebagaimana ditunjukkan Gambar 3.

Gb3_Konfigurasi Op_Amp

Gambar 3. Dua Macam Konfigurasi Op-Amp

1. Inverting Konfiguration
Jika signal dimasukkan di antara terminal inverting input dan bumi sementara terminal noninverting input dibumikan maka signal keluaran akan berlawanan fasa dengan signal masukkan.
2. Noninverting Konfiguration
Sebaliknya jika signal dimasukkan di antara terminal noninverting input dan bumi sementara terminal inverting input dibumikan maka signal keluaran sefasa dengan signal masukkan.

C. ALAT DAN BAHAN
1.Perencanaan/design PCB
a.Alat tulis (pensil, penghapus, pulpen 2 warna hitam dan merah)
b.Kertas gambar F4 70 gram
c.Penggaris
d.Mal/Sablon Lingkaran
2.Pembuatan PCB
a.Papan PCB Polos Single Side ukuran 40 mm X 60 mm
b.Pensil
c.Mal/Sablon Lingkaran
d.Skotlet
e.Cutter
f.Larutan Ferry Clhoride (FeCl3)
g.Air
h.Wadah plastik
i.Detergen
j.Penitik
k.Bor tangan/Bor DC
l.Amplas halus
3.Alat Tangan/Mekanik untuk Perakitan Rangkaian
a.Solder
b.Dudukan solder
c.Attractor (desoldering pump)
d.Tang potong
e.Tang lancip
f.Obeng +
4.Bahan dan Daftar Komponen
a.Rangkaian Catu Daya 12 VDC
b.PCB Pre Amp Mic dengan Op-Amp 741
c.Tinol
d.Kabel
e.Terminal Mikropon
f.Mikropon Dinamik
g.Resistor (47 kΩ; 33 kΩ; 22 kΩ, dan 1 kΩ)
h.Kapasitor elco (10 UF (3 buah); 100 UF (1 buah))
i.IC Op-Amp 741
5.Alat Ukur:
a.AVO meter standard
b.AFG (audio Frequency Generator)
c.CRO (Cathode Ray Oscilloscope) Dual Trace

D. GAMBAR SKEMA RANGKAIAN

Gb4_Skema Pre Amp Mic

Dalam praktik penulis menggunakan IC Op-Amp 741 dengan pertimbangan lebih murah, lebih mudah didesain, handal serta banyak terdapat di pasaran. Jika menggunakan Op-Amp 741 maka resistor pembagi tegangan antara pin 3 (non inverting dengan ground) diganti dengan R yang lebih kecil nilainya, yaitu 33 kOhm.

E. KESELAMATAN KERJA
1.Pastikan lay out PCB yang akan dibuat sudah benar sesuai dengan gambar skema rangkaian.
2.Pada saat melarutkan PCB (etching) menggunakan larutan ferrichloride (FeCl3) lakukan dengan benar, jangan sampai larutan tumpah. PCB yang telah dietching dibersihkan dengan menggunakan sabun cuci hingga bersih.
3.Cek kembali hubungan jalur-jalur komponen lay out PCB dengan menggunakan ohmmeter, pastikan semua jalur sudah benar dan tidak ada yang hubung singkat (short).
4.Cek kondisi komponen yang akan dirakit untuk memastikan bahwa komponen yang dirakit adalah komponen yang dalam keadaan baik.
5.Bersihkan kaki komponen dan pad PCB dengan menggunakan amplas halus agar hasil solderan baik (kokoh, mengkilat, dan runcing).
6.Gunakan alat tangan/mekanik dengan benar sesuai dengan fungsinya.
7.Pastikan semua komponen terpasang pada PCB dengan benar sesuai gambar skema rangkaian.
8.Gunakan alat ukur AVO meter dengan benar, yaitu pemilihan range sesuai dengan tegangan yang diukur.
9.Pada saat mengukur respon frekuensi dengan menggunakan CRO dan AFG, lakukan kalibrasi CRO terlebih dahulu dan setting awal AFG pada frekuensi tengah (1 kHz) dengan wave form sinus dan attenuasi 0 dB.

E. LANGKAH KERJA
1.Siapkan alat dan bahan.
2.Cek semua komponen yang akan dirakit dengan menggunakan AVO meter pada fungsi ohm meter untuk mengidentifikasi komponen dalam keadaan baik. Pastikan bahwa semua komponen dalam kondisi baik.
3.Cek lay out PCB. Pastikan jalur hubungan antar titik/kaki komponen sudah benar sesuai dengan gambar skema rangkaian.
4.Pasang komponen sesuai dengan tata letak komponen. Pastikan bahwa komponen terpasang dengan benar sesuai tata letak komponen dan gambar skema rangkaian.
5.Solder kaki komponen pada pad PCB. Penyolderan dimulai dari komponen pasif terlebih dulu baru dilanjutkan dengan komponen aktif, yaitu: dimulai dengan resistor dilanjutkan kapasitor (elco) dan terakhir IC Op-Amp 741. Gunakan teknik menyolder yang benar agar hasil solderan baik, yang ditunjukkan dengan hasil solderan matang (mengkilat) dan kokoh.
6.Lakukan pengkabelan dengan benar dan rapi.
7.Lakukan uji fungsi/uji dengar rangkaian Pre Amp Mic dengan IC Op-Amp 741 dengan menghubungkan input rangkaian ke mikropon dan output rangkaian ke input audio amplifier serta output audio amplifier dihubungkan dengan beban loudspeaker. Pastikan sambungan pengujian benar dan berikan tegangan catu sebesar 12 VDC dari catu daya. Lakukan cek sound dengan bersuara di mikropon. Perhatikan hasil reproduksi suara yang dihasilkan oleh louspeaker. Catat hasil pengujian.
8.Pengukuran Tegangan Kerja Rangkaian Pre Amp Mic dengan IC Op-Amp 741:
a.Hubungkan rangkaian pada catu daya 12 VDC. Ukurlah tegangan keluaran catu daya dan catat hasilnya.
b.Lakukan pengukuran tegangan kerja pin-pin IC Op-Ampn 741 yang meupakan komponen aktif inti pada rangkaian Pre Amp Mic dengan IC Op-Amp 741 menggunakan AVOmeter pada range DVC.
9.Pengujian Respons Frekuensi Rangkaian Pre Amp Mic dengan IC Op-Amp 741:
a.Lakukan kalibrasi CRO CH1 dan CH2. Catat dan gambar bentuk sinyal hasil kalibrasi CH 1 dan CH2.
b.Lakukan setting awal AFG, meliputi:
1)Frekuensi = frekuensi tengah 1 kHz
2)Bentuk gelombang (waveform) = sinusioda
3)Attenuasi = 0 dB
4)Amplitudo output AFG = Vinput rangkaian CE = 20 mVP-P = 0,02 VP-P
Catat dan gambar bentuk sinyal hasil setting AFG.
c.Hubungkan input rangkaian pre amp mic pada out AFG dan probe CH1 CRO, output rangkaian pre amp mic pada CH2 CRO, dan terminal VCC dihubungkan ke catu daya 12 VDC.
d.Pada saat frekuensi 1 kHz, perhatikan tampilan CRO CH1 dan CH2. Pastikan layar CRO menampilkan bentuk gelombang input dan output yang bersih (smooth) dan output tidak cacat.
e.Lakukan pengukuran untuk seluruh spektrum frekuensi audio 20 Hz – 20 kHz, dengan mengubah-ubah frekuensi AFG. Perhatikan Vin adalah konstan jadi jangan melakukan perubahan amplitudo AFG. Perhatikan tampilan bentuk gelombang output CH2.
10.Lakukan penghitungan besar amplitudo sinyal output, penguatan dalam kali, dan penguatan dalam decibel untuk seluruh spektrum frekeunsi audio yang diuji.
11.Gambarkan grafik respons frekuensi rangkaian pre amp mic dengan IC Op-Amp 741 pada kertas semilogaritma.
12.Praktik selesai. Kembalikan semua alat dengan rapi dan buatlah laporan praktik.

Selamat mencoba dan sukses selalu.