PERSIAPAN SOUND SYSTEM

Dalam urutan belajar bernasyid terutama dalam hal performance salah satu hal yang juga tidak bisa diabaikan oleh para
munsyid adalah bagaimana menguasai perangkat sound yang tersedia. Seringkali hal ini diabaikan oleh para munsyid sehingga ketika mereka menampilkan hasil karya nasyidnya jadi terdengar kurang maksimal. Sound yang sember, sumbang, watt kurang, tipe microphone yang tidak sama, tidak tepat frekuensi dan lain sebagainya acapkali menjadi batu sandungan yang herannya selalu diulangi ketika tim-tim nasyid tampil. Akibatnya alih-alih menampilkan sosok karya yang baik malah penampilan menjadi “low performance”, kurang “PeDe”, dan akhirnya saling menyalahkan diantara sesama anggota tim nasyid tersebut.
Berikut beberapa kiat dan cara agar tim nasyid bisa tampil PeDe dengan penguasaan sound yang baik berdasarkan
pengalaman SNADA:

1. KENALI JENIS SOUND SYSTEM.

Ada banyak jenis sound pendukung performance bagi tim nasyid: Rolland, Metz, Yamaha sound, dan masih banyak jenis sound pendukung lainnya. Kita tidak perlu repot-repot kalau memang kita memiliki sound engineer sendiri karena dialah yang akan bertanggung jawab untuk mengatur frekuensi suara masing-masing personal munsyid ketika tampil sehingga bisa memunculkan suara yang maksimal. Namun kalau sebuah tim nasyid tidak memiliki seorang sound engineer maka keahlian itu harus dikuasai sedikitnya oleh satu orang sehingga nantinya bisa mengatur sound kelompok nasyid tersebut.
Secara umum sound memiliki

3 wilayah suara:
~ High
~ Middle
~ Low
Tambahan lainnya yang juga penting adalah Gain: untuk membesarkan/melebarkan suara dari masing-masing channel suara yang ada di sound system.

2. URUTLAH CHECK SOUND

Dalam melakukan check sound maka semua suara secara umum dilakukan stemming (penyetelan suara), yang biasanya dimulai dari suara Bass. Kemudian dilanjutkan dengan Lead Vocal (baik lead 1, 2 atau 3 tergantung jumlah lead) dan terakhir pengiring Suara Bass memiliki frekuensi suara yang rendah, amplitudo (lebar gelombang) yang lebar. Oleh karena itu dalam mixer dibutuhkan level low lebih besar dari pada highnya. Sementara middle dipatok ½ level saja atau lebih sedikit. Gain pada bass biasanya dibuat maksimal sama atau sedikit dibawah lead (satu strip dibawah lead). Kalau suara bass juga membutuhkan suara tinggi lainnya maka level high boleh dibesarkan sedikit, namun tetap dibawah level low pada mixer. Suara Lead, biasanya pada laki-laki menggunakan suara tenor. Lead harus memiliki power yang lebih menonjol dari pada yang lain. Lead memiliki frekuensi suara yang tinggi, amplitudo yang lebih sempit dari bass atau pengiring, agar penyampaian nasyid bisa maksimal. Oleh karena itu level high lebih tinggi dari lainnya. Low dipatok ½ atau lebih satu strip dari posisi ½ pada mixer. Middle agak lebih tinggi sedikit dari lownya. Namun harus diperhatikan gain dan balance dari Lead. Jangan sampai suara lead jadi tidak bersih, kurang atau bahkan terlalu tajam, atau seperti orang bernyanyi di dalam ember (bergema, tersendat, tertutup dan kurang lepas). Gain suara lead minimal sama dengan bass atau malah lebih. Suara pengiring biasanya terdiri dari 4 macam: tenor liris, tenor dinamis, tenor harmonis dan baritone. Suara laki-laki untuk pengiring sangat jarang menggunakan suara alto, karena suara ini untuk wanita. Secara umum ketiga tenor ini sama setelannya: Gain lebih rendah sedikit dari lead (maksimal satu strip dibawah Lead). High bisa sama dengan lead; khusus untuk tenor dinamis setelan high lebih tinggi sedikit dari pada high pada lead. Untuk level lainnya relatif sama dengan suara lead. Pada suara bariton sedikit berbeda: High sama dengan lead, low lebih tinggi sedikit tapi tetap dibawah bass, middle dipatok sama dengan lead dan pengiring lainnya.
Setelah semua suara melakukan check sound maka dilakukan balancing terhadap semua suara agar hasil akhir maksimal. Check sound yang baik akan menghasil suara yang harmonis dimana semua level frekuensi suara terisi (baik bass, bariton, dan tenor).

3. PERLENGKAPAN LAIN YANG HARUS DIPERHATIKAN

Dua urutan diatas termasuk hal standar yang harus mendapatkan perhatian yang baik agar bisa tampil secara maksimal. Selain itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Microphone harus sama jenis dan tipenya (misal untuk jenis mic shure, yang digunakan adalah shure SM58, untuk Seinheisser digunakan tipe black fire atau sejenisnya), Newmann menggunakan tipe royal, atau Mic lainnya yang memiliki tipe khusus untuk vocal. Khusus untuk bass biasanya digunakan tipe mic: SM53 (untuk jenis mic Shure) atau tipe black fire 3000 (jenis mic Seinheisser). Jangan pernah gunakan Shure tipe 57 untuk vocal karena jenis ini hanya
untuk perkusi. Begitupun jangan gunakan seinheisser tipe road atau yang lain karena ini khusus untuk perkusi atau alat Bantu lainnya. Sebaiknya kesamaan mic juga pada jenis frekuensinya, apakah kabel atau tanpa kabel. Bila menggunakan mic tanpa kabel pastikan batere yang digunakan masih baru agar frekuensinya sama dan hasil micnya jadi lebih optimal. Kalau lead lebih banyak bergerak, maka lead boleh menggunakan mic tanpa kabel sementara yang lain menggunakan kabel. Namun yang paling ideal adalah semua mic sama jenis, tipe, dan jenis frekuensinya.
Lakukan check sound di monitor speaker lebih dulu agar suara yang dihasilkan bisa langsung didengar dengan baik, karena monitor berperan sangat besar untuk menentukan baik atau tidak suara yang dihasilkan. Apabila suara di monitor speaker sudah baik maka minta kepada bagian sound (operator sound) untuk mengangkat semua suara dari master
volume sehingga nantinya suara yang dihasilkan akan baik. Dalam hal ini harus diperhatikan speaker monitor yang dipergunakan, apakah cukup baik sehingga semua frekuensi suara bisa tertangkap. Agar lebih bagus maka pergunakan monitor speaker seperti Peavey, Gamma, Rolland atau sejenisnya, karena speaker ini bisa menghasilkan suara yang
maksimal. Jangan lupa melihat kapasitas dari power, mixer, speaker dan monitor speaker. Sebagai standar gunakan power sound yang asli (bukan rakitan) dengan daya minimal 5000 watt untuk ruangan dengan kapasitas 300 orang. Sementara untuk di lapangan pergunakan daya minimal 7500-10000 watt bila dihadiri oleh 500 orang apalagi lebih, agar tampilan sound
lebih optimal. Setelah semua siap dan kita yakin betul dengan tampilan sound maka kemudian jangan lupa berdo’a agar tidak ada kesalahan-kesalahan teknis yang mengganggu jalannya performance tim nasyid kita.

One thought on “PERSIAPAN SOUND SYSTEM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s