KEGAGALAN TIM LKS BANJARNEGARA: “LIFE NEVER FLAT”

Manusia pada akhirnya harus mengakui bahwa ia adalah makhluk yang terbatas, sehebat apapun dia sekuat apaun dia, dalam perjalanannya pastilah ia menemui rintangan pun aral yang menghalang langkahnya. Tidak ada jalan yang lurus tanpa liku. “life never flat” begitu tagline Chitato produk makanan ringan mempromosikan dagangannya.  Seperti layaknya irisan tipis kentang yang dipanggang dengan pisau pemotong bergerigi tentulah tidak akan pernah dihasilkan kentang yang lurus, yah kentang yang berliku sedemikian indah dan yummi, crispy serta pastilah enak. Ia mengisyaratkan hidup yang tidak pernah lurus, tidak pernah rata, senantiasa ada ombak, aral menghalang, dan apapun lah yang disebut sebagai rintangan. Hidup yang rata dan rutinitas belaka akan membawa kita pada kejenuhan yang sangat, yah saturasi.. layaknya robot yang hanya taat pada programnya, tanpa improvisasi tanpa warna. Anda dapat membayangkan kehidupan seperti apa itu..?

Demikian juga dengan Tim LKS Kabupaten Banjarnegara, setelah tahun 2010 merebut 2 medali emas (juara 1) pada mata lomba networking dan body otomotif serta 1 medali perunggu (juara 3) IT software. Tahun ini, 2011 dimana saya ikut di dalamnya sebagai guru pendamping, benar-benar berasa lekukan kentang chitato itu. Yah, tahun ini Tim LKS Banjarnegara tidak mendapat juara apapun dari seluruh mata lomba yang diikuti. Terbaik hanya peringkat ke-4 (Harapan 1) pada mata lomba IT software. Seluruh mata lomba yang diikuti tidak ada satupun yang menang. Prestasi yang turun jika dibandingkan tahun sebelumnya. Mengapa semua bisa terjadi? Lekukan kentang itu begitu dalam, sehingga kita harusnya tersentak untuk segera sadar dan bangun berbenah.

LKS Tahun 2011 ini diselenggarakan di Pati, Jepara, dan Kudus (eks. Karisidenan Kedu?) tanggal 18-20 Oktober 2011. Ehm… hampir setengah bulan yang lalu dan jujur sampai dengan saat ini masih belum dapat dilupakan. Yah, ternyata kegagalan begitu terasa tidak enak. Memang benar, kata Thomas Alfa Edison tidak pernah ada kata menyerah saat beliau gagal sampai dengan percobaan ke 999 sebelum menemukan bola lampu pijar, yang ada hanyalah cara yang keliru sebelum menuju sukses. Kisah ini begitu populer, sehingga hampir semua siswa di dunia tahu, benar kegagalan adalah sukses yang tertunda.

So, apa salahnya tahun ini Tim LKS Banjarnegara gagal total di ajang bergengsi bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) se-Jawa Tengah itu? Ehm… kalau kita mau berbicara jujur dan dewasa maka benar tidak ada yang salah dengan semua kegagalan ini, tetapi kegagalan seperti ini seyogyanya bahkan seharusnya dan harus tidak terulang lagi di tahun depan. Ini jawaban kalau kita idealis dan penuh semangat dan vitalitas untuk selalu optimis menatap masa depan yang gemilang, tidak pernah menyalahkan… tapi cukupkah teriakan ini untuk membawa kita kembali pada kejayaan? Tidakkah kegagalan menunjukkan potret buram dari ketidakberhasilan kita memenuhi ekspektasi yang begitu tinggi, harapan dan kebanggaan yang begitu berkobar. Sebagai yang terbaik?

Ah.. ternyata kita tersandung dan jatuh juga. Sekali lagi benar kata Chitato life never flat. Mungkin kita perlu menyikapi kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda atau apapun itu untuk menenangkan diri dan agar tidak semakin terpuruk dalam perasaan bersalah dan terkungkung selamanya dalam kegelapan. Benar… kita musti segera bangkit dan berdiri kembali. Kita musti berbenah dan menata semuanya, termasuk memulai dengan menata diri kita untuk memberikan yang terbaik bagi putra-putri anak didik kita. Karena ketika kita memberikan yang terbaik tentulah hasilnya juga akan terbaik pula.  So, bagaimana kalau kita sepakati saja bahwa kita memang harus senantiasa melakukan perbaikan dari hari ke hari, dari lini ke lini, semuanya…. berikan yang terbaik untuk anak didik kita. Agar mereka menjadi yang terbaik, bukan hanya di LKS tapi dalam kehidupan nyata mereka, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus kita persiapkan menjadi manusia yang tangguh, manusia paripurna yang sanggup menjawab dan mengatasi tantangan jamannya… karena mereka adalah anak jaman…

Dan kita? Marilah berbenah….

 

 

Mantrianom, 3 November 2011

Saat terkenang akan kegagalan LKS dan merindukan Chitato “life never flat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s