DALAM BAYANG BIDADARI

Oleh: Agus Saefudin

Hemm… apakah engkau pernah merasakan saat tiba-tiba sebuah bayang menjelma begitu nyata dalam benakmu, mencengkeram erat dan tak bisa dibuang. Bayang itu seperti hantu terus membayangi langkahmu, yahh…  benar-benar menjadi bayangan dalam tiap langkah yang kau tempuh. Seperti ia telah merasuk, menyatu dan padu menjadi satu dalam raga ringkihmu. Melebur…… membangun harmoni mimpi-mimpi yang harus diakui teramat indah dan begitu melenakan. Ia laksana oase di tengah sahara, laksana terang dalam gulita hatimu.

Dapatkah kau membayangkan, tatap matanya bening menyejukkan, suaranya menina bobokan, memanjakan, peluknya hangat menentramkan. Bersamanya sungguh surga itu seperti nyata di dunia. Yah… mungkin dialah wujud nyata surga di dunia, nyata senyata-nyatanya karena bersamanya kau tak lagi merasakan lara dan mata tak lagi mereproduksi air, mata tanpa air mata. Rengkuhannya begitu damai, senyumnya adalah simponi terindah dalam alunan musik jiwamu. Kau bahkan tak dapat melupakan betapa bening matanya yang di dalamnya kau dapat berenang merasakan sejuk merasuk dalam seluruh raga dan jiwamu.

Saat kau merasakan seperti yang ku tuturkan di atas, tentulah hari-harimu menjadi indah dan asamu tentu ikut melambung tinggi setinggi-tingginya hingga kaupun merasa di dunia ini hanya ada kau dan bayang itu, yang lain menjadi nisbi. Lalu puja puji dan lagu cinta senantiasa kau senandungkan seiring tarikan nafasmu, langkahmu menjadi lagu merdu, jiwamu bergelora merasakan hidup yang sungguh bagimu adalah surga. Saat bersamanya kau menjadi begitu bahagia. Ehm… kau tentu menyebutnya dialah bidadari nyata yang dengannya ingin kau habiskan masa hidupmu di dunia. Bahkan padanya biasanya kau akan menghamburkan janji bahwa dialah yang menjadikanmu bermakna dan bahagia. Hanya dia. Karena kau cinta dia maka kaupun ingin hidup bersamanya, merajut cerita indah dalam segenap masa. Yah… aku sangat memaklumi karena saat ini berarti kau tengah jatuh cinta dan kau tengah belajar menjadi dewasa. Dan sejak kau menggenggam tangannya cerita itu mulai diukir dan kaupun memulai sebuah perjalanan, perjalanan manusia menuju lakon hidupnya. Tentunya dalam riang langkah yang tertempuh berharap hanyalah bahagia saja adanya.

Lalu engkau akan menjalani sebuah lakon hidup dengan bidadarimu itu, tapi tahukah engkau bahwa aral dan badai kan menerjang perjalanan cinta itu. Ah… kau remaja sadarkah bahwa kau masih teramat muda dan kadang kau tak siap dengan hempasan badai yang tiba-tiba menggoncang biduk yang tengah kau layarkan bersama bidadarimu. Kau menjadi resah dan bidadari itu menjadi gundah, akan banyak pertentangan dan perbedaan memaknai goncangan badai di tengah samudera kisahmu. Kadang kau terlalu meminta banyak pada sang bidadari dan harapanmu terlampau tinggi sementara kau kadang tak melihat dirimu sungguhkah kau telah memenuhi segala harap dan mimpi sang bidadari itu. Ini lah satu masalah saat idealita yang ada dalam asamu tak bertemu nyata. Dan sering kau menyalahkan bidadari itu, dan kau memaknai cinta begitu sempitnya karena kau berpikir tentang bahagiamu saja sementara bahagia bidadari itu sering kau anggap secara otomatis melekat pada bahagiamu. Ehm… sesungguhnya wajar egoisme masa remaja, tetapi tahukan engkau bahwa tak mungkin tercipta irama saat kau bertepuk sebelah tangan dan takkan mungkin kau berlari kencang dengan sebelah kaki. Sungguh harmoni akan tercipta dan lagu akan terdengar merdu saat semua dipadukan. Semua butuh belajar…. Dan pesanku jangan mudah bidukmu lebur hanya karena sebuah goncangan. Saat goncangan itu datang semestinya kau dan bidadari itu mempererat genggaman, memadukan harmoni, bekerjalah sebagai satu sistem yang utuh dan yang dibutuhkan adalah pengertian, kejujuran, kesetiaan, dan keikhlasan untuk saling bahu membahu mengatasi bersama goncangan itu.

Dan, sayangnya musti ku tuturkan dengan jujur bahwa goncangan yang datang dalam segenap perjalanan tak cukup satu kali maka tinggal kau pilih sungguhkah cinta itu nyata adanya. Jika ya maka berpadulah dalam harmoni dan saling menguatkan untuk menjadi pemenang. Namun, saat salah satu dari engkau menjadi lemah dan menyerah dan yang lain melonggarkan pegangan dan pelukan percayalah goncangan yang kesekian akan meluluh lantakkan bidukmu. Dan kaupun hancur, bidadari itupun lebur. Bahagiakah dengan perpisahan itu…? Tentu tidak dan kisah seperti ini akan menyisakan luka yang lara.

Maka, sungguh jika boleh ku berpesan jangan pernah menyerah ketika kau telah memadukan janji bersama bidadari yang kau yakini ia tercipta dari tulang rusukmu. Butuh perjuangan dan perjuangan senantiasa memerlukan pengorbanan. Jadi, jangan mudah menyerah. Aku bahkan selalu meyakini ia yang mudah datang akan mudah pergi dan tak ada bahagia yang datang secara tiba-tiba. Bahagia sejati akan mewujud seiring semangat juang dan keteguhan hati mewujudkan semua mimpi yang dilukis di langit dan bersama saling menguatkan itulah yang terpenting. Percayalah dalam tiap perjalanan pastilah terdapat aral melintang karena tak ada jalan yang lurus mulus pastilah kan kau temui kelokan. Demikian juga dengan lakon hidup yang kau jalani, maka perjuangkanlah cintamu dan bahagialah… karena kau berhak bahagia.

Hemm… jadi saat kau tengah merasakan sebuah bayang yang begitu erat padu dalam jiwa dan ragamu serta kau menjadi bahagia karenanya maka bersiaplah. Sejak saat itu kau tengah belajar melakoni kisah hidup menuju manusia dewasa dan sandarkanlah semua untuk mencari ridha-Nya. Jadi, jika sudah cukup usiamu nanti dan kau telah sanggup menafkahi. Menikahlah dan bahagialah….

 

Bawang, 24 September 2012.

Saat malam kian merangkak pekat dan aku teringat bahwa telah banyak anakku yang disapa bidadari hatinya dan tengah belajar jadi manusia dewasa. Bahagialah dan semoga bidadarimu nyata adanya yang akan membawa pada bahagia sejati.

One thought on “DALAM BAYANG BIDADARI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s