GURU DAN PEMBELAJARAN AKTIF

Pada konstelasi sistem pendidikan nasional, pendidikan sering dikaitkan dengan pembangunan nasional. Keberhasilan suatu sistem pendidikan antara lain diukur dari keberhasilannya memasok tenaga-tenaga terampil dalam jumlah yang memadai bagi kebutuhan sektor-sektor pembangunan dan harus dapat berperan dalam pembangunan nasional sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki untuk mengisi lapangan pekerjaan yang memerlukannya. Dengan demikian sistem pendidikan harus senantiasa menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembangunan nasional, baik dalam jumlah, kualitas, maupun jenis-jenis pekerjaan yang ada di masyarakat.

Guru adalah salah satu komponen utama dalam sistem pendidikan yang sangat mempengaruhi hasil pendidikan, guru merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi hasil belajar siswa.  Guru merupakan kunci utama untuk meningkatkan mutu pendidikan karena  salah satu  persyaratan  penting bagi terwujudnya pendidikan yang  bermutu adalah  apabila pelaksanaannya dilakukan oleh pendidik-pendidik yang keprofesionalannya dapat  diandalkan. Menurut Slamet  PH (1992) dunia pendidikan tidak akan mengalami  perubahan apapun sepanjang para dosen dan guru  tidak mau berubah, tidak adaptif dan antisipatif terhadap perubahan.

Berdasarkan Undang-undang nomor 14/2005 pasal 10, dinyatakan bahwa kompetensi guru itu meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional  yang diperoleh melalui pendidkan profesi. Dalam mengemban tugas dibidang keprofesiannya sebagai pengajar, guru dituntut dapat mendidik atau mengajar dan melatih. Dalam pelaksanaan dikelas, saat proses belajar mengajar setidak-tidaknya tugas guru seperti sebagai demonstrator, manager kelas, mediator, fasilitator, serta sebagai evaluator terhadap siswa harus terjadi dengan baik. Tugas-tugas ini secara tidak langsung melebur dalam diri guru yang akan tercermin dalam tindakannya sehari-hari.

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal saat ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini nampak dari rata-rata hasil belajar yang masih memprihatinkan. Secara empiris, berdasarkan hasil analisis penelitian terhadap rendahnya hasil belajar siswa, hal tersebut lebih banyak disebabkan proses pembelajaran yang didominasi oleh pembelajaran tradisional. Pada pembelajaran tersebut suasana kelas cenderung teacher-oriented sehingga siswa menjadi pasif. Agar diperoleh hasil yang maksimal perlu adanya perubahan paradigma pembelajaran yang berorientasi pada siswa dengan metodologi yang berorientasi pada partisipatori, dengan dengan pendekatan yang semula bersifat tekstual berubah menjadi kontekstual.

Menurut Locke; Of all the men we meet with, nine parts of ten are what they are, good or evil, useful or not, by their education. Sembilan dari 10 orang yang  kami jumpai, baik budi atau jahat, bermanfaat atau sebaliknya, ditentukan oleh pendidikannya.

Gagasan  Locke ini menyegarkan komitmen bahwa pendidikan itu memang  penting. Tidak ada manusia di dunia sekarang ini yang mengingkari kebenaran peran pendidikan tersebut. Juga usaha-usaha nyata telah banyak dilakukan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia  melalui pendidikan.  Di Indonesia, menjelang era reformasi bergulir, gagasan-gagasan tentang bagaimana meningkatkan mutu pendidikan telah banyak dilontarkan. Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS), misalnya, merupakan strategi  peningkatan mutu  pendidikan yang  bertumpu pada  kemandirian sekolah.  Demikian pula sekarang dalam konteks menyesuaikan perkembangan dan kemajuan, wacana penerapan kurikulum berbasis kompentensi diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan.

Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.

Untuk itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau silabusnya dengan cara melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi dan Standar Kompentensi Lulusan yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006.

KTSP yang merupakan kurikulum operasional pada masing-masing satuan pendidikan merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi sehingga dalam pelaksanaanya menuntut adanya kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran, adanya perubahan paradigma dari mengajar menjadi belajar (Teaching menjadi Learning), adanya perubahan cara berpikir produktif menjadi reflektif (productive thinking menjadi reflective thinking). Hal ini dikarenakan adanya pemahaman bahwa kompetensi bukan sekedar pengetahuan (demonstrating the knowledge) tetapi lebih merupakan kemampuan/kesanggupan melakukan (ability to do).

Motivasi dianggap  faktor yang menentukan keberhasilan  KBM. Siswa  yang bermotivasi dalam KBM cenderung  memperlihatkan  hasil  yang baik. Untuk itu, beberapa  saran berikut ini  diharapkan diikuti untuk menciptakan KBM yang efektif.

  • Kebermaknaan (Siswa  akan belajar bila terkait dengan minat, bakat, tata nilai siswa),
  • Pengetahuan dan keterampilan prasyarat (Pengetahuan awal siswa menentukan kegairahan siswa belajar),
  • Model (KBM sebaiknya memberikan contoh nyata yang bisa ditiru oleh siswa),
  • Komunikasi terbuka  (Penyampaian informasi terstruktur sehingga siswa menerima pesan dengan baik),
  • Keaslian dan tugas menantang (materi, kegiatan yang baru akan menambah konsentrasi siswa),
  • Latihan yang tepat dan aktif,
  • Penilaian tugas (tugas dibagi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama dengan frekuensi pengulangan yang tinggi),
  • Kondisi dan konsekuensi yang menyenangkan (KBM  menye-nangkan, bebas dari takut),
  • Mengembangkan beragam kemampuan ( siswa belajar jika KBM mendorong  pengembangan kemampuan logis, matematis, bahasa, musik, kinestik, inter/intra personal),
  • Melibatkan sebanyak mungkin Indra, Keragaman pendekatan (siswa  akan belajar jika KBM bervariasi).

Adanya perubahan paradigma dari mengajar menjadi belajar (Teaching menjadi Learning), maka pembelajaran dititikberatkan pada aktivitas belajar siswa (Student Centered Learning/SCL), bukan  pada aktivitas guru mengajar.

Di masa datang dibutuhkan tenaga kerja: berpendidikan baik, mampu bekerja sama, mampu memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, dan mampu memanfaatkan teknologi secara efektif.
Beberapa  hal di atas  secara  teoritik  telah mampu memberikan pedoman tentang bagaimana pengalaman belajar harus (sebaiknya) dikelola. Demikian juga  pengalaman belajar (learning experiences) lain seperti kegiatan lomba, perkemahan, bakti sosial, studi banding, penelitian latihan, kooperasi, kebun/sawah dan bengkel percobaan,  dikembangkan dan dikelola untuk mengembangkan kompetensi, kerjasama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan keterampilan hidup.

Ruang kelas dikelola sedemikian rupa sehingga beberapa aspek penting kelas terjamin, seperti:

  • Aksessibilitas:  mudah menjangkau  alat dan sumber belajar
  • Mobilitas:  siswa  dan guru mudah bergerak
  • Interaksi: memudahkan interaksi guru  dan siswa
  • Variasi kerja siswa: menjamin siswa kerja perorangan, berpasangan dan kelompok.

Prinsip belajar mengajar menggunakan empat prinsip yaitu learning to know, learning to do, learning to life together dan learning to be. Dalam hal ini mengandung pengertian bahwa pembelajaran harus mengimplementasikan belajar untuk mengetahui, belajar untuk dapat melakukan, belajar bekerjasama untuk mendapatkan sesuatu dan belajar menjadi sesuatu yang dipelajari. Oleh karena itu dalam merencanakan pembelajaran memerlukan metode dan strategi yang benar-benar dapat membawa peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat bagi pengembangan keterampilan hidupnya. Dalam melaksanakan pembelajaran dirancang kegiatan yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan dan menguatkan. Agar pembelajaran menyenangkan seorang  guru dituntut kreativitasnya untuk menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif, dan menarik.

Siap ? ***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s