PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT MADANI

Oleh: Agus Saefudin

A. Latar Belakang

Tujuan negara Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pembangunan dalam segenap aspek kehidupan dalam rangka mencapai tujuan bernegara tersebut sejatinya adalah sama dengan menciptakan masyarakat madani. Masyarakat madani merupakan cita-cita bersama bangsa dan negara yang sadar akan pentingnya suatu keterikatan antar komponen kehidupan berbangsa dan negara demi terciptanya kemajuan dan kemandirian melalui pembangunan berkelanjutan yang menyejahterakan, pengentasan kemiskinan, peningkatan daya saing dan kesiapan menghadapi globalisasi.

Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan, yaitu adil dan makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini dapat terlaksana apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu dengan menjadikan masusia sebagai subyek karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi untuk berkembang. Pengembangan segenap potensi manusia ini merupakan proses yang diharapkan dapat merubah watak, sikap dan perilaku sesuai dengan harkat dan martabat manusia yang beradab sehingga tujuan dan cita-cita berbangsa dapat dicapai. Dengan demikian pembangunan merupakan usaha pengubahan dari keadaan yang tidak diinginkan (dystopia) menuju keadaan yang diinginkan (utopia) dengan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan.

Banyak kendala yang harus dihadapi bangsa Indonesia sehingga sampai dengan saat ini belum dapat dikatakan sebagai masyarakat madani (civil society). Kendala-kendala tersebut, diantaranya: (1) masih rendahnya minat partisipasi warga masyarakat terhadap kehidupan politik Indonesia dan kurangnya rasa nasionalisme, yaitu kurang peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi negara, (2) masih rendahnya sikap toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama, (3) masih rendahnya kesadaran individu dalam kesimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan kewajiban, (4) kualitas sumber daya manusia (SDM) yang  belum memadai karena pendidikan yang belum merata, (5) masih rendahnya pendidikan politik masyarakat, (6) kondisi ekonomi nasional yang belum stabil, (7) tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja terbatas, (8) tingginya angka kemiskinan, dan (9) kondisi sosial politik serta demokrasi yang belum mapan. Lebih lanjut Ilham Nur Alfian (2005: 2) menyatakan bahwa rendahnya sikap toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama disebabkan adanya kemajemukan warga negara Indonesia yang terdiri dari beragam suku, budaya, ras dan agama. Kemajemukan jika tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan banyak persoalan, seperti: korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, separatisme, perusakan lingkungan, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain.

Pengembangan potensi manusia agar dapat terealisasi sebagai sumber daya utama dalam mewujudkan masyarakat madani secara efektif dilaksanakan melalui jalur pendidikan. Pendidikan merupakan proses perubahan atau pendewasaan manusia yang berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak paham menjadi paham dan sebagainya. Pendidikan dapat dilakukan dimana saja, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, dan keluarga. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjamin kelangsungan hidup negara karena pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sesuai dengan dasar negara yang menjadi falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia maka pendidikan yang berdasarkan Pancalisa dan Undang-undang Dasar 1945 merupakan pendidikan yang tepat untuk menciptakan masyarakat madani di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat Rafael Raga Maran (2007: 109) yang menyatakan bahwa dari nilai-nilai Pancasila tercermin pandangan hidup manusia Indonesia tentang hakikat keberadaannya di dunia ini. Di sini kita berhadapan dengan suatu cara pikir yang melihat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berada dalam jaringan relasi-relasi fundamental. Jaringan relasi fudamental berdasarkan Pancasila, yaitu relasi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama), relasi manusia dengan sesamanya (sila kedua), relasi manusia dengan tanah air-nusa-bangsanya (sila ketiga), relasi manusia dengan pemimpin masyarakat atau kekuasaan dan pemerintahan negara (sila keempat), dan relasi menusia dengan masyarakat atau negara sebagai kesatuan sosial dalam  rangka realisasi kesejahteraan umum (sila kelima). Dengan demikian masyarakat madani (civil society) diasosiasikan sebagai masyarakat beradab (civilized) yang mengandung kehidupan sosial yang sopan dan ditegakkan atas dasar akar hak, kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh pada peraturan atau hukum dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

B. Menjadi Masyarakat Madani

Pada masa sekarang ini Indonesia membutuhkan dan tengah mengarahkan segenap aspek pembangunan pada berkembangnya masyarakat madani sebagaimana amanah dan tujuan negara, yaitu:  memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kondisi Indonesia yang dilanda euphoria demokrasi, semangat otonomi daerah, dan derasnya globalisasi membutuhkan masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan hidup bersama dalam sikap saling menghargai dan toleransi dalam kemajemukan yang tidak saling mengekslusifkan terhadap berbagai suku, agama, bahasa, ras, dan adat  yang berbeda. Kepedulian, kesantunan, dan setia kawan merupakan sikap yang sekaligus menjadi prasaran yang diperlukan bangsa Indonesia.

Pengembangan masyarakat madani di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pengalaman sejarah bangsa Indonesia sendiri. Kebudayaan, adat istiadat, pandangan hidup, kebiasaan, rasa senasib sepenanggungan, cita-cita dan hasrat bersama sebagai warga dan sebagai bangsa, tidak mungkin lepas dari lingkungan serta sejarahnya. Lingkungan dan akar sejarah kita, warga dan bangsa Indonesia, sudah diketahui baik kekurangan maupun kelemahan, juga diketahui kelebihan dan keunggulannya. Di antara keunggulan bangsa Indonesia, adalah berhasilnya proses akulturasi dan inkulturasi yang kritis dan konstruktif. Pada saat ini, ada pertimbangan lain mengapa pengembangan masyarakat madani harus secara khusus diberi perhatian. Kita hidup dalam jaman, di mana interaksi tidak saja berlangsung secara domestik dan regional, tetapi sekaligus secara global. Dari idiom yang kita pakai, kemauan dan kemampuan kita untuk adaptasi, akulturasi, dan inkulturasi, lebih-lebih lagi sangat kita perlukan dalam masa reformasi menuju demokratisasi dewasa ini.

Masyarakat madani Indonesia adalah masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, secara politik ekonomi dan budaya bersifat mandiri, serta memiliki pemerintahan demokratis. Secara umum ada 3 (tiga) karakteristik dasar dalam masyarakat madani, yaitu:

  1. Diakuinya semangat pluralisme, artinya pluralisme telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak, pluralitas telah menjadi kaidah yang abadi. Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati (given) dalam kehidupan. Pluralisme bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif dan dinamis serta merupakan sumber dan motivator terwujudnya kreativitas, yang terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan. Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita adalah sebuah perbedaan yang kosmopolit akan tercipta manakala manusia memiliki sikap inklusif dan mempunyai kemampuan (ability) menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar.
  2. Tingginya sikap toleransi baik terhadap saudara sesama agama maupun terhadap umat agama lain. Secara sederhana toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar serta menghargai pendapat dan pendirian orang lain. Tujuan agama senyatanya tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah agama ansich, namun juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya hak hidup berdampingan dan saling menghormati satu sama lain.
  3. Tegaknya prinsip demokrasi. Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan persaingan, demokrasi adalah suatu pilihan untuk bersama-sama membangun dan memperjuangkan perikehiduan warga dan masyarakat agar semakin sejahtera. Masyarakat madani mempunyai ciri-ciri ketakwaan yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa, hidup berdasarkan sains dan teknologi, berpendidikan tinggi, mengamalkan nilai hidup modern dan progresif, mengamalkan nilai kewarganegaraan, akhlak dan moral yang baik, mempunyai pengaruh yang luas dalam proses membuat keputusan dan menentukan nasib masa depan yang baik melalui kegiatan sosial, politik, dan lembaga masyarakat.

Ada 6 (enam) faktor yang harus diperhatikan untuk membangun masyarakat madani di Indonesia, yaitu:

  1. Adanya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang melandasi moral kehidupan;
  2. Adanya perbaikan di sektor ekonomi dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat dan dapat mendukung kegiatan pemerintahan;
  3. Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun manusia yang memiliki komitemen untuk merdeka (independent);
  4. Terjadinya pergeseran budaya dari masyarakat yang berbudaya paternalistik menjadi budaya yang lebih modern dan lebih independent;
  5. Berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam;
  6. Adanya partisipasi aktif dalam menciptakan tata pamong yang baik (clean goverment).

Masyarakat madani di Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 karena negara Republik Indonesia dibangun di atas dasar Pancasila yang sudah menjadi fakta historis yang tak terbantahkan oleh siapapun juga. Dengan demikian, negara Republik Indonesia pun secara khas membedakan diri dari negara-negara lain yang ada di dunia. Perbedaan yang sangat mencolok terletak pada fakta bahwa Pancasila berisikan seperangkat asas moral yang mencerminkan pandangan hidup yang telah dikembangkan oleh manusia Indonesia selama berabad-abad dalam lintasan sejarah kebudayaan. Sering dikatakan bahwa Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai kultural bangsa Indonesia sendiri. Dari nilai-nilai Pancasila tercermin pandangan hidup manusia Indonesia tentang hakikat keberadaannya di dunia ini. Di sini kita berhadapan dengan suatu cara pikir yang melihat manusia sebagai makhluk yang senantiasa berada dalam jaringa relasi-relasi fundamental. Yakni relasi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa (sela pertama), relasi manusia dengan sesamanya (sela kedua), relasi manusia dengan tanah air-nusa-bangsanya (sila ketiga), relasi manusia dengan pemimpin masyarakat atau kekuasaan dan pemerintahan negara (sila keempat), dan relasi menusia dengan masyarakat atau negara sebagai kesatuan sosial dala  rangka realisasi kesejahteraan umum (sila kelima).

Dengan landasan dan pandangan hidup Pancasila dan UUD 1945 ini maka karakteristik masyarakat madani Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Demokratis yang sehat dan bertanggung jawab;
  3. Berkedaulatan yang memperjuangkan rakyat;
  4. Menghargai perbedaan pendapat dalam bingkai kepentingan bersama sebagai bangsa multikultural;
  5. Menghormati hak dan kewajiban azasi manusia;
  6. Menjunjung supremasi hukum;
  7. Mampu mewujudkan dinamis antara tatanan (disiplin) sosial dan otonomi individu secara seimbang, selaras dan serasi;
  8. Mengefektifkan kontrol sosial dan menjaga iklim kehidupan yang sejuk;
  9. Terbuka (transparan), saling percaya antar golongan demi kerukunan hidup, berkesinambungan antara agama, suku, golongan demi kelestarian ideologi bangsa, lingkungan hidup, dan pengembangan kebudayaan nasional yang ber-Bhineka Tunggal Ika; dan
  10. Berketahanan nasional dalam menyikapi abad informasi, teknologi, komunikasi, dan kebudayaan global.

C. Pendidikan Nasional Mewujudkan Masyarakat Madani Indonesia

Pendidikan yang merupakan usaha sadar untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan diyakini sebagai jalan dan langkah yang tepat dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia karena hakikat pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dalam menumbuhkembangkan eksistensi manusia baik sebagai makhuk individu maupun sosial, serta pendidikan juga menjamin eksistensi masyarakat untuk terus berkembang semakin dewasa dan beradab.

Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sesungguhnya berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan adi luhung bangsa Indonesia. Dengan akar dan dasar yang kuat ini maka melalui pendidikan  dapat dikembangkan segenap potensi peserta didik baik keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan menjadi manifestasi sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri, serta pada tumbuh sebagai warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dengan generasi muda paripurna yang merupakan lulusan pendidikan berkualitas maka kehidupan berbangsa juga akan berkembang semakin maju baik dalam hal kemampuan bangsa mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran, watak bangsa yang berjati diri luhur dan tangguh, bangsa yang berperadaban modern, bermartabat, dan cerdas.

Pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan masyarakat madani karena pada dasarnya, pendidikan adalah hal yang sangat diperlukan dalam mewujudkan masyarakat beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya. Upaya untuk mengaktualisasikan masyarakat madani di Indonesia melalui pendidikan kelihatannya masih harus menempuh jalan panjang. Pendidikan haruslah melakukan reorientasi dan berusaha menerapkan paradigma baru pendidikan nasional, yang tujuan akhirnya adalah pembentukan masyarakat Indonesia yang demokratis dan berpegang teguh pada nilai-nilai civilitty.

Pendidikan nasional telah melakukan banyak upaya dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang sampai saat ini telah dan sedang dilaksanakan sebagai proses berkesinambungan dalam menumbuh-kembangkan eksistansi manusia yang memasyarakat dan masyarakat yang membudaya. Upaya-upaya pendidikan sebagai bagian integral dari pembangunan Indonesia mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan bernegara yang berarti pula sebagai proses menuju masyarakat madani yang diidamkan, sebagai berikut:

  1. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan masyarakat madani karena  merupakan sistem penanaman nilai-nilai perilaku kepada peserta didik meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan hidup dan kebangsaan sehingga menjadi manusia paripurna (insan kamil). Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen pemangku pendidikan harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu: isi kurikulum, poses pembelajaran dan penilaian, pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah. Dengan pendidikan karakter diharapkan peserta didik menjadi manusia paripurna yang siap menjadi generasi tangguh membangun diri sendiri, keluarga dan lingkungannya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu sehingga pada tataran luas masyarakat madani dapat terwujud.

  1. Implementasi Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 dikembangkan dan diterapkan secara kontekstual untuk merespons kebutuhan daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Kurikulum 2013 disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan takwa; (b) peningkatan akhlak mulia; (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan; (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional; (f) tuntutan dunia kerja; (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (h) agama; (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Dari amanah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah ditegaskan bahwa kurikulum dikembangkan secara berdiversifikasi dengan maksud agar memungkinkan penyesuaian program pendidikan pada satuan pendidikan dengan kondisi dan kekhasan potensi yang ada di daerah serta peserta didik, serta kurikulum dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat satuan pendidikan. Implementasi Kurikulum 2013 diharapkan dapat menjawab tantangan kemajuan jaman dan globalisasi dengan menyiapkan generasi paripurna yang memiliki kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) sehingga peserta didik diharapkan tidak hanya mempunyai pengetahuan kognitif, tetapi juga mempunyai attitude dan psikomotorik yang mumpuni. Keberhasilan penerapan kurikulum 2013 diyakini akan dapat mewujudkan masyarakat madani.

  1. Pendekatan Pembelajaran Partispasi dan Berpikir Orde Tinggi

Pendekatan pembelajaran partisipasi yang menuntut keaktifan siswa dalam pembelajaran yang didukung berpikir orde tinggi akan dapat meningkakan keberhasilan pembelajaran siswa. Ada 3 (tiga) alasan pentingnya pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, yaitu: (a) mengacu pada buku Six Simple Rules: How to Manage Complexity Without Getting Complicated (Morieux and Tollman, 2014) yang menyebutkan bahwa tingkat kompleksitas dalam periode 20 – 30 tahun meningkat 35 kali lpat. Hal ini berarti persoalan dan solusi di masa depan bertambah rumit; (b) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan kompleksitas tersendiri sehingga diperlukan orang-orang yang berpikir kritis; (c) pendekatan partisipatory teaching methode memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan passive teaching methode.

Metode pembelajaran partisipasi yang mencakup diskusi kelompok, praktik di laboratorium atau kerja sosial, dan presentasi mempunyai daya serap yang tinggi bagi peserta didik mencapai 50 – 90 persen. Sehingga dalam pembelajaran dikedepankan kegiatan observasi, bertanya, bereksperimen, berpikir nalar, dan menyampaikan pendapat. Dengan pendekatan pembelajaran partsipasi dan berpikir orde tinggi ini maka diharapkan peserta didik mampu berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan yang bertambah rumit. Dengan demikian diharapkan pada saat terjun di masyarakat, mereka menjadi generasi yang tangguh yang dapat mengatasi tantangan jaman dan mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan yang berarti siap menjadi bagian dari masyarakat madani yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

  1. Pengembangan Peserta Didik Melalui Ekstrakurikuler dan Bimbingan Konseling

Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat dan minat. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan lainnya yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling. Kegiatan pengembangan diri melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran sehingga penilaian kegiatan pengembangan diri dilakukan secara kualitatif, tidak kuantitatif seperti pada mata pelajaran.

Pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu:  berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab  dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum. Dengan demikian ekstrakurikuler merupakan program kurikuler yang alokasi waktunya tidak ditetapkan dalam kurikulum. Jelasnya bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan perangkat operasional (supplement dan complements) kurikulum yang disusun dan dituangkan dalam rencana kerja tahunan/kalender pendidikan satuan pendidikan.

Kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda; seperti perbedaan sense akan nilai moral dan sikap, kemampuan, dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya. Kegiatan ekstrakurikuler juga memberikan manfaat sosial yang besar.

Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yag mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa. Layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi.

Pelaksanaan bimbingan konseling memfasilitasi peserta didik yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan social, belajar dan pembentukan karir. Kesemua jenis layanan dan bidang bimbingan serta kegiatan pendukung tercantum dalam program bimbingan konseling, yang terdiri dari program tahunan, program semesteran, program bulanan, program mingguan dan program harian yangsecara substansi berdasarkan kepada kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangannya. Guru Bimbingan konseling atau Konselor sekolah berkolaborasi dengan guru, wali kelas serta orang tua dan para ahli yang dibutuhkan dalam mengentaskan permasalahan yang dihadapi peserta didik.

Dengan demikian melalui kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan konseling diharapkan potensi peserta didik berkembang secara maksimal sehingga pada saat terjun ke masyarakat mampu memberikan kontribusai bagi pembangunan diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya.

  1. Muatan Lokal

Muatan lokal merupakan bahan kajian yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal dikembangkan dan dilaksanakan pada setiap satuan pendidikan dan berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal. Berkaitan dengan muatan lokal pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan menengah, sedangkanpemerintah daerah kabupaten/kota melakukan koordinasi dan supervisi pengelolaan muatan lokal pada pendidikan dasar. Pengelolaan muatan lokal meliputi penyiapan, penyusunan, dan evaluasi terhadap dokumen muatan lokal, buku teks pelajaran, dan buku panduan guru.

Muatan lokal sebagai bahan kajian yang membentuk pemahaman terhadap potensi di daerah tempat tinggalnya bermanfaat untuk memberikan bekal sikap, pengetahuan, dan keterampilan kepada peserta didik agar:

  1. mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya;
  2. memiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat pada umumnya; dan
  3. memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai serta aturan-aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.

Muatan lokal dengan demikian memiliki peran yang penting dalam upaya menciptakan masyarakat madani karena melalui muatan lokal peserta didik lebih memahami jati diri, lingkungan alam, sosial dan budayanya sehingga diharapkan setelah terjun di masyarakat dapat menjadi generasi yang bijak dalam mengembangkan diri, keluarga, masyarakat dan juga lingkungannya baik sosial maupun budaya dan pada tataran yag lebih luas menjadi lebih menghargai kemajemukan dan lebih menyintai tanah air Indonesia.

Upaya-upaya pendidikan nasional untuk menciptakan masyarakat madani di Indonesia pada implementasinya tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru dalam proses pembelajaran mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai pengajar dan pendidik sehingga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai kemajuan pendidikan. Dengan demikian untuk mencapai kualitas pendidikan yang tinggi dalam upaya menciptakan masyarakat madani maka peningkatan kualitas guru menjadi hal penting yang harus dilakukan disamping secara profesional semua guru juga harus senantiasa meningkatkan kualitas diri secara terus menerus baik melalui musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), pendidikan dan pelatihan, maupun belajar secara mandiri sebagai bagian dari long life education. Peningkatan kualitas pendidikan guru memiliki peran, antara lain:

  1. sebagai salah satu komponen sentral dalam sistem pendidikan;
  2. sebagai tenaga pengajar sekaligus pendidik dalam instansi pendidikan (sekolah maupun kelas bimbingan);
  3. penentu mutu hasil pendidikan dengan mencetak peserta didik yang benar-benar menjadi manusia paripurna, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya diri, disiplin dan bertanggung jawab;
  4. sebagai faktor kunci yang berarti bahwa semua kebijakan, rencana inovasi, dan gagasan pendidikan yang ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan pada tataran praktis dilaksanakan oleh guru;
  5. sebagai pendukung serta pembimbing peserta didik sebagai generasi yang akan meneruskan perjuangan bangsa untuk mengisi kemerdekaan dalam pembangunan nasional serta dalam penyesuaian perkembangaan jaman dan teknologi yang semakin maju;
  6. sebagai pelayan kemanusiaan di lingkungan masyarakat.

Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (character building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Orang yang telah mempunyai ilmu pengetahuan memiliki kewajiban mengajarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, profesi guru dalam menyebarkan ilmu pengetahuan merupakan investasi ibadah. Selain itu,  guru juga berperan sebagai pendidik (nurturer) yang berperan  dan berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dari norma-norma yang ada. Selain sebagai kewajiban, mengajar juga merupakan profesi dalam meningkatkan kompetensi kualifikasi akademik.

Guru sebagai pendidik merupakan pelaksana pembangunan pada garda depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu prasyarat bagi masyarakat madani. Kondisi utopis pendidik sebagai pelaksana pembangunan dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Pendidik diharapkan mampu memahami karakteristik unik dari peserta didik dan berupaya memenuhi kebutuhan mereka;
  2. Pendidik sebagai motivator dan fasilitator menghadapi kehidupan yang didominasi nilai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga pendidik harus menguasainya secara luas;
  3. Pendidik harus menjadi resi bijaksana yang menguasai ilmu dan sarat akan nilai moral serta agama sekaligus seniman;
  4. Pendidik sebagai komunikator ulung sekaligus humoris yang memungkinkan menumbuhkembangkan sifat manusiawi peserta didik, seperti: gelak tawa, sedih, prihatin, kesetiakawanan, empati, dan sebagainya;
  5. Pendidik harus menjadi transformator hidup yang sanggup berdialog dan menghidupkan informasi baik elektronik maupun non elektronik kepada peserta didik sehingga manusia yang berjiwa dapat berinisiatif dan inovatif dalam menghadapi kehidupan;
  6. Pendidik harus memiliki solidaritas bangsa yang tinggi karena masyarakat Indonesia sangat majemuk;
  7. Pendidik harus mampu menumbuhkan alam kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menangkal terjadinya penetrasi, dominasi dan ketergantungan peserta didik terhadap budaya asing;
  8. Pendidik harus menjadi pemimpin di muka bumi (khalifah fil ‘ard) yang dalam konteks Indonesia adalah Pancasilais sejati.

Guru sebagai aktor utama dalam pembangunan bidang pendidikan dan mempunyai peran yang penting dalam upaya menciptakan masyarakat madani di Indonesia harus senantiasa bekembang kompetensinya sesuai dengan tuntutan dan kemajuan jaman. Pengembangan guru harus mempehatikan bahwa terdapat hubungan interaktif antara tingkah laku, karakteristik, lingkungan dan tugas guru.

Tingkah laku guru yang merupakan indikator dari kemampuan/kompetensi guru dalam melaksanakan tugas berkaitan dengan pribadi guru yang menjadi pusat dari aktivitas pengembangan baik bakat, abilitas, dan juga kebutuhan dan dipengaruhi lingkungan-lingkungan yang diciptakan untuk pembinaan guru, serta kemampuan guru dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam memenuhi perannya sebagai pendidik. Dengan memperhatikan hal ini maka bentuk pengembangan guru dilaksanakan secara efektif, melalui: supervisi, tugas administrasi, konseling, pengembangan kurikulum dan keilmuan, intervensi klinis, dan pengembangan guru (teacher develpment) secara terus menerus melalui kesadaran belajar sepanjang hayat (long life education) untuk selalalu meningkatkan kompetensinya.

Dari uraian di atas maka dapat ditarik benang merah bahwa masyarakat madani di Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera dapat diwujudkan melalui pendidikan. Upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani harus mendasarkan pada pemberdayaan peserta didik agar menjadi manusia paripurna dan untuk itu guru sebagai pengajar dan pendidik harus melaksanakan tugas pendidikan dengan penuh kasih, dedikasi dan tanggung jawab karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Keberhasilan pembangunan akan membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada akhirnya ketika seluruh warga adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban maju dengan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan serta dilandasi nasionalisme dan cinta tanah air yang tinggi maka masyarakat madani Indonesia akan terwujud.

D. Simpulan dan Saran

Simpulan

  1. Masyarakat madani Indonesia adalah masyarakat yang memegang teguh ideologi yang benar, berakhlak mulia, secara politik ekonomi dan budaya bersifat mandiri, serta memiliki pemerintahan demokratis. Ciri-ciri masyarakat madani Indonesia, adalah: (a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) demokratis yang sehat dan bertanggung jawab, (c) berkedaulatan yang memperjuangkan rakyat, (d) menghargai perbedaan pendapat dalam bingkai kepentingan bersama sebagai bangsa multikultural, (e) menghormati hak dan kewajiban azasi manusia, (f) menjunjung supremasi hukum, (g) mampu mewujudkan dinamis antara tatanan (disiplin) sosial dan otonomi individu secara seimbang, selaras dan serasi, (h) mengefektifkan kontrol sosial, menjaga iklim kehidupan yang sejuk, (i) terbuka (transparan), saling percaya antar golongan demi kerukunan hidup, berkesinambungan antara agama, suku, golongan demi kelestarian ideologi bangsa, lingkungan hidup, dan pengembangan kebudayaan nasional yang ber-Bhineka Tunggal Ika; dan (j) berketahanan nasional dalam menyikapi abad informasi, teknologi, komunikasi, dan kebudayaan global.
  2. Upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani di Indonesia, ditempuh melalui penerapan kebijakan sebagai berikut: (a) pendidikan karakter, (b) implementasi Kurikulum 2013, (c) pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, (d) pengembangan peserta didik melalui ekstrakurikuler dan bimbingan konseling, dan (e) muatan lokal. Upaya-upaya ini pada implementasinya memerlukan peran penting guru. Bentuk pengembangan guru dilaksanakan secara efektif, melalui: supervisi, tugas administrasi, konseling, pengembangan kurikulum dan keilmuan, intervensi klinis, dan pengembangan guru (teacher develpment) secara terus menerus melalui kesadaran belajar sepanjang hayat (long life education) untuk selalalu meningkatkan kompetensinya.

Saran

  1. Perlu dilakukan pengkajian lebih dalam melalui penelitian yang intensif terhadap upaya pendidikan nasional dalam menciptakan masyarakat madani Indonesia. Variabel-variabel pendidikan karakter, implementasi Kurikulum 2013, pendekatan pembelajaran partisipasi dan berpikir orde tinggi, pengembangan peserta didik melalui ekstrakurikuler dan bimbingan konseling, dan  muatan lokal yang dibahas pada makalah ini perlu dibuktikan pengaruhnya terhadap keberhasilan pembelajaran peserta didik yang pada akhirnya akan terjun dalam masyarakat dan menjadi bagian penting dari masyarakat madani di Indonesia.
  2. Perlu ditanamkan kepada guru bahwa upaya pendidikan dalam menciptakan masyarakat madani harus mendasarkan pada pemberdayaan peserta didik agar menjadi manusia paripurna dan untuk itu guru sebagai pengajar dan pendidik harus melaksanakan tugas pendidikan dengan penuh kasih, dedikasi dan tanggung jawab karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s